Laporan Dormansi dan Perkecambahan Biji

Disusun oleh:

Nama  : Heny Dwi Kurniawati

NIM     : 08308144008

Prodi  : Biologi Swadana

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2009


KAJIAN PUSTAKA

A. Dormansi

Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embrio. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio. Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya.

a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi

  • Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan.
  • Imnate dormancy (rest): dormansi yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ biji itu sendiri.

b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji

Mekanisme fisik

Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri, terbagi menjadi:

  • Mekanis: embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik
  • Fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeabel
  • Kimia: bagian biji atau buah yang mengandung zat kimia penghambat

Mekanisme fisiologis

Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis, terbagi menjadi:

  • Photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya
  • Immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang tidak/belum matang
  • Termodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu

c. Berdasarkan bentuk dormansi

Kulit biji immpermeabel terhadap air (O2)

  • Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nukleos, pericarp, endocarp.
  • Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
  • Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skrifikasi mekanisme.
  • Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum, strophiole, adapun mekanisme higroskopinya diatur oleh hilum.
  • Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.

Embrio belum masak (immature embryo)

  • Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. Misalnya Gnetum gnemon (melinjo)
  • Embrio belum terdiferensiasi
  • Embrio secara morfologis telah berkembang, namun masih butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.

Dormansi immature embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur rendah dan zat kimia.

Biji membutuhkan pemasakan pascapanen (afterripenning) dalam penyimpanan kering

Dormansi karena kebutuhan akan afterripenning ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatut tinggi dan pengupasan kulit.

Biji membutuhkan suhu rendah

Biasa terjadi pada spesies daerah temperate, seperti apel dan Familia Rosaceae. Dormansi ini secara alami terjadi dengan cara: biji dorman selama musim gugur melampaui satu musim dingin, dan baru berkecambah pada musim semi berikutnya. Dormansi karena kebutuhan biji akan suhu rendah ini dapat dipatahkan dengan perlakuan pemberian suhu rendah, dengan pemberian aerasi dan imbibisi.

Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi ini adalah:

  • Jika kulit dikupas, embrio tumbuh
  • Embrio mengalami dormansi yang hanya dapat dipatahkan dengan suhu rendah
  • Embrio tidak dorman pada suhu rendah, namun proses perkecambahan biji masih membutuhkan suhu yang lebih rendah lagi
  • Perkecambahan terjadi tanpa pemberian suhu rendah, namun semai tumubuh kerdil
  • Akar keluar pada musim semi, namun epikotil baru keluar pada musim semi berikutnya (setelah melampaui satu musim  dingin)

Biji bersifat light sensitive

Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas (kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang hari).

Kuantitas cahaya

Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan perkecambahan pada biji-biji yang positively photoblastic (perkecambahan dipercepat oleh cahaya), jika penyinaran intensitas tinggi ini diberikan dalam durasi waktu yang pendek. Hal ini tidak berlaku pada biji yang bersifat negatively photoblastic (perkecambahannya dihambat oleh cahaya).

Biji pesitively photoblastic yang disimpan dalam kondisi imbibisi dalam gelap untuk jangka waktu lama akan berubah menjadi tidak responsif terhadap cahaya, dan hal ini disebut skotodormant. Sebaliknya, biji yang bersifat negatively photoblastic menjadi photodormant jika dikenai cahaya. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan dengan temperatur rendah.

Kualitas cahaya

Yang menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari spektrum, sedangkan sinar infra merah menghambat perkecambahan. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually antagonistic (sama sekali bertentangan). Jika diberikan bergantian , maka efek yang terjadi kemudian dipengaruhi oleh spektrum yang terakhir kali diberikan. Dalam hal ini, biji mempunyai 2 pigmen yang photoreversible (dapat berada dalam 2 kondisi alternatif):

  • Ø P650 : mengabsorbir di daerah merah
  • Ø P730 : mengabsorbir di daerah infra merah

Jika biji dikenai sinar merah maka pigmen P650 diubah menjadi P730. P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang menyebabkan terjadinya perkecambahan. Sebaliknya jika P730 dikenai sinar infra merah maka pigmen berubah kembali menjadi P650 dan terhambatlah proses perkecambahan.

Photoperiodisitas

Respon dari biji photoblastic dipengaruhi oleh temperatur :

  • Pemberian temperatur 10-20°C : biji berkecambah dalam gelap
  • Pemberian temperatur 20-30°C : biji menghendaki cahaya untuk berkecambah
  • Pemberian temperatur >35°C : perkecambahan biji dihambat dalam gelap atau terang

Kebutuhan akan cahaya untuk perkecambahan dapat diganti oleh temperatur yang diubah-ubah. Kebutuhan akan cahaya untuk pematahan dormansi juga dapat digantikan oleh zat kimia seperti KNO3, thiourea dan asam giberelin.

Dormansi karena zat penghambat

Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangakaian kompleks proses-proses metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangakaian proses perkecambahan. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton tidak jenuh, namun lokasi penghambatnya sukar ditentukan karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat dimana zat tersebut diisolir. Zat penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah.

Teknik Pematahan Dormansi Biji

Biji telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahakan dormansi dan memulai proses pekecamabahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan unuk mengatasi dormansi embrio.

Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang ditunjuka untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam (Schmidt, 2000). Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan secara fisis, mekanis, maupun chemis. Hartmann (1997) mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya.

B. Perkecambahan Biji

Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang keluar menembus kulit biji (Salibury, 1985: 4160). Di balik gejala morfologi dengan permunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis.

Secara fisiologi, proses perkecambhan berlangsung dalam beberapa tahapan penting meliputi :

  • Absorbsi air
  • Metabolisme pemecahan materi cadangan makanan
  • Transport materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang aktif bertumbuh
  • Proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru
  • Respirasi
  • Pertumbuhan

Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan, terutam asam giberelin (GA) dan asam abskisat (ABA). Faktor eksternal yang merupkan ekologi perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan (Mayer, 1975:46-43).

Syarat perkecambahan biji

a. Air

  • Fungsi 1 : melunakkan kulit biji, embrio dan endosperm mengembang sehingga kulit biji robek
  • Fungsi 2 : memfasilitasi masuknya O2 kedalam biji, air imbibisi pada dinding sel sehingga sel jadi permeabel terhadap gas. Gas masuk secara difusi sehingga suplai O2 pada sel hidup meningkat dan pernafasan aktif
  • Fungsi 3 : mengencerkan protoplasma, aktivasi macam-macam fungsinya
  • Fungsi 4 : alat transport larutan makanan dari endosperm/kotiledon ketitik tumbuh di embryonic axis : untuk membentuk protoplasma baru

Bagian biji yang mengatur masuknya air yaitu kulit dengan cara imbibisi (perembesan ) dan mikro raphae hilum dengan cara difusi (perpindahan substansi karena perbedaan konsentrasi) dari kadar air tinggi ke rendah/konsentrasi larutan rendah ke tinggi

Faktor yang mempengaruhi penyerapan air :

  1. Permeabilitas kulit/membran biji
  2. Konsentrasi air

Karena air masuk secara difusi, maka konsentrasi larutan diluar bji harus    tidak lebih pekat dari di dalam biji.

3.   Suhu air

Suhu air tinggi energi meningkat, difusi air meningkat sehingga     kecepatan penyerapan tinggi.

4.   Tekanan hidrostatik

Berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air.  Kerika volume air dalam membran biji telah sampai pada batas tertentu akan timbul tekanan  hidrostatik yang mendorong keluar biji sehingga kecepatan penyerapan air menurun.

5.   Luas permukaan biji yang kontak dengan air

Berhubungan dengan kedalaman penanaman biji dan berbanding lurus      dengan kecepatan penyerapan air.

6.   Daya intermolekuler

Merupakan tenaga listrik pada molekul-molekul tanah atau media tumbuh. Makin rapat molekulnya, makin sulit air diserap oleh biji.Berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air.

7.   Spesies dan Varietas

Berhubungan dengan faktor genetik yang menentukan susunan kulit biji.

8.   Tingkat kemasakan

Berhubungan dengan kandungan air dalam biji, biji makin masak, kandungan air berkurang, kecepatan penyerapan air meningkat.

9.   Komposisi Kimia

Biji tersusun atas karbohidrat, protein, lemak. Kecepatan penyerapan air: protein>karbohidrat>lemak.

10. Umur

Berhubungan dengan lama penyimpanan makin lama disimpan, makin sulit menyerap air.

b. Suhu

Adanya cardinal point temperatures: min-optimum-max

  • Suhu minimum: batas suhu terendah dimana tidak dapat terjadi lagi perkecambahan biji
  • Berkecambah dalam cahaya terus menerus
  • Berkecambah setelah penyinaran sesaat
  • Tidak berpengaruh oleh ada/tidaknya cahaya

Proses Perkecambahan Biji (Jann dan Amen dalam Khan, 1934)

1. Penyerapan air

  • Masuk air secara imbibisi dan osmosis
  • Kulit biji
  • Pengembangan embrio dan endosperm
  • Kulit biji pecah, radikal keluar

2. Pencernaan

Merupakan proses terjadinya pemecahan zat atau senyawa bermolekul besar dan kompleks menjadi senyawa bermolekul lebih kecil, sederhana, larut dalam air dan dapat diangkut melalui membran dan dinding sel.

Makanan cadangan utama pada biji yaitu pati, hemiselulosa, lemak, protein:

  • tidak larut dalam air atau berupa senyawa koloid
  • terdapat dalam jumlah besar pada endosperm dan kotiledon
  • merupakan senyawa kompleks bermolekul besar
  • tidak dapat diangkut (immobile) ke daerah yang memerlukan embrionikaksis

Proses pencenaan dibantu oleh enzim

  • senyawa organik yang diproduksi oleh sel hidup
  • berupa protein
  • merupakan katalisator organik
  • fungsi pokok:

* enzim amilase merubah pati dan hemiselulosa menjadi gula

* enzim protease merubah protein menjadi asam amino

* enzim lipase merubah lemak menjadi asam lemak dan gliserin

  • aktivasi enzim dilakukan oleh air setelah terjadinya imbibisi
  • enzim yang telah diaktivasi masuk ke dalam endosperm atau kotiledon untuk mencerna cadangan makanan

3. Pengangkutan zat makanan

Hasil pencernaan diangkut dari jaringan penyimpanan makanan menuju titik-titik tumbuh pada embrionik axis, radicle dan plumulae

Biji belum punya jaringan pengangkut, sehingga pengangkutan dilakukan secara difusi atau osmosis dari satu sel hidup ke sel hidup lainnya

4. Asimilasi

Merupakan tahapan terakhir dalam penggunaan cadangan makanan

Merupakan proses pembangunan kembali, misalnya protein yang sudah dirombak menjadi asam amino disusun kembali menjadi protein baru

Tenaga atau energi berasal dari proses pernapasan

5. Pernafasan (Respirasi)

Merupakan proses perombakan makanan (karbohidrat) menjadi senyawa lebih sederhana dengan membebaskan sejumlah tenaga

Pertama kali terjadi pada embrionik axis setelah cadangan habis baru beralih ke endosperm atau kotiledon.

Aktivasi respirasi tertinggi adalah pada saat radicle menembus kulit

6. Pertumbuhan

Ada dua bentuk pertumbuhan embrionik axis:

Pembesaran sel-sel yang sudah ada

Pembentukan sel-sel yang baru pada titik-titik tumbuh

Proses Perkecambahan Morfologis

Merupakan suatu tahapan segera setelah terjadinya proses pengangkutan makanan dan pernafasan

Diawali oleh pembelahan dan perpanjangan sel

Dilanjutkan oleh pertumbuhan embryonic axis yang makroskopik yaitu keluarnya radicle atau plumulae dari kulit biji

HIPOTESIS

  1. Biji kulit tipis akan mengalami perkecambahan lebih cepat dari pada biji kulit tebal.
  2. Dengan pengamplasan biji kulit tebal akan mempercepat pematahan masa dormansi biji, jika dibandingkan dengan biji kulit tebal yang tidak diamplas.
  3. Penambahan zat kimia seperti herbisida dan NaCl akan menghambat proses perkecambahan.
  4. Semakin tinggi konsentrasi herbisida dan NaCl, semakin lambat proses perkecambahan.
  5. Ketersediaan dan banyaknya air mempengaruhi perkecambahan pada biji. Terlalu banyak air akan berdampak negatif terhadap proses perkecambahan


DATA HASIL PERCOBAAN

Zat Kimia Kacang Hijau Kacang tanah Kacang Merah Asam

diamplas      tdk diamplas

Flamboyan

diamplas   tdk damplas

Air 20 % Berke-

cambah

40 % Berke-cambah - 80 % kulit pecah, 20 % berke-cambah - - -
NaCl 0,5 % 70 % Berke-cambah - - 60 % ter-kelupas, 40 % tdk ada per-ubahan - - -
NaCl 1 % - - - 20 % ter-kelupas, 30% tdk ada per-ubahan - - -
Herbisida

1 ml

35 % Berke-cambah - - Kulit pecah - - -
Herbisida

2 ml

40 % Berke-cambah Kulit pecah - Kulit pecah - - -

PEMBAHASAN

Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan dan ketebalan kulit biji terhadap perkecambahan. Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting yaitu absorbsi air, metabolisme, pemecahan materi, proses transport materi, pembentukkan kembali materi baru, respirasi, dan pertumbuhan (Suyitno, 2007:51).

Pada percobaan perkecambahan ini, digunakan dua jenis biji yaitu:

  1. Biji kacang hijau (Phaseolus radiatus) yang merupakan biji berkulit tipis.
  2. Biji asam (Tamarindus indica) dan flamboyan (Delonix regia) yang merupakan biji berkulit tebal.

Untuk biji kacang hijau yang merupakan biji berkulit tipis, ditempatkan pada cawan petri yang telah dialasi kapas dan dibasahi  dengan larutan yang berbeda, dimana banyaknya larutan yang digunakan ada yang hanya beberapa tetes saja, sementara yang lainnya sampai merendam biji. Larutan yang digunakan antara lain air (sebagai kontrol), herbisida 1 ml, herbisida 2 ml, NaCl 0,5%, dan NaCl 1%.

Perlakuan yang sama juga diberikan kepada biji asam dan flamboyan yang merupakan biji berkulit tebal. Hanya saja, sebelum ditempatkan pada cawan petri, kedua jenis biji yang berkulit tebal itu sebagian diamplas terlebih dahulu, sementara sisanya tidak diamplas.

Berdasarkan hasil pengamatan selama tiga hari diketahui bahwa kacang hijau yang diletakkan di cawan yang diteesi air telah berkecambah sekitas 20 %. Hal ini terjadi karena keadan lingkungan biji yang kering atau air yang terdapat pada cawan menjadi kering etelah dua hari dan tidak dilakukan penyiraman. Padahal air sangat berpengaruh sekali dalam perkecambahan. Selain itu waktu yang relative singkat yaitu selama tiga hari yang pada saat itu biji baru berkecambah belum menjadi tanaman.

Pada biji kacang hijau yang diberi NaCl 0,5% menunjukan adanya perubahan pada biji kacang hijau, yaitu berkecambah  sebanyak 70 % hal ini terjadi karena lingkungan disekitar biji memungkinkan untuk tumbuh. Hanya saja kita belum bias melihat pertumbuhan selanjutnya, karena waktu yang hanya tiga hari belum cukup untuk mengamati pertumbuhan biji menjadi tanaman apalagi dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, yaitu dberi zat NaCl 0,5 % dan lama kelamaan lingkungan biji menjadi kering.

Pada  biji kacang hijau yang ditetesi NaCl 1 % menunjukkan bahwa biji kacang hijau tidak ada perubahan sama sekali. Hal ini terjadi karena larutan Nacl 1 % yang diberikan sangat sedikit akibatnya lingkungan biji menjadi kering sehingga biji pun tidak berkecambah. Seharunya larutan yang diberikan harus sampai menyebabkan biji basah sehingga biji berkecambah.

Biji kacang hijau yang diberi herbisida 1 ml menunjukkan adanya perubahan bahwa biji berkecambah hingga 35 %. Begitu pula pada biji yang diberi larutan Herbisida 2 ml menunjukkan bahwa biji berkecambah hingga 40 %. Setelah itu tidak Nampak perubahan lagi dalam waktu 3 hari. Seharusnya pada biji kacang hijau yang diberi larutan herbisida 1 ml atau 2 ml, menunjukkan perkecambahan 100% pada hari pertama. Akan tetapi kecambah kecil dan kering karena herbisida dapat menghambat sintesis amilase sehingga proses hidrolisis pati menjadi gula dalam endosperm berkurang dan jumlah glukosa yang dikirim ke titik tumbuh sedikit sehingga pertumbuhan biji terhambat sehingga meskipun terjadi perkecambahan, tetapi kecambah kecil dan akarnya pendek. Glifosat menghambat pemanjangan akar kecambah, karena masuknya herbisida glifosat ke dalam tubuh tumbuhan melalui akar menghambat pertumbuhan terutama pemanjangan akar dan mencegah pertumbuhan akar lateral Herbisida aktif lewat system perakaran menyebabkan kerdil serta menekan pertumbuhan akar lateral (Moenandir, 1993). Semakin meningkat dosis herbisida glifosat menyebabkan semakin terhambatnya pertumbuhan panjang akar.

Pada kacang tanah yang diberi air menunjukan gejala perkecambahan sebanyak 40 %. Hal ini menunjukkan bahwa air mempengaruhi perkecambahan. Karena dengan lingkungan yang basah memberikan rangsangan biji untuk berkecambah.

Namun pada kacang tanah yang diberi NaCl 0,5 %, NaCl 1 %, dan herbisida 1 ml, kacang tanah tidak tumbuh. Hal ini terjadi karena larutan yang diberikan terlalu sedikit sehingga menjadikan lingkungan yang tidak cocok untuk perkecambahan. Lingkungan kering, apalagi setelah tiga hari tidak diberi larutan lagi. Sehingga kita tidak bisa melihat gejala-gejala yang Nampak saat biji berkecambah dan saat pertumbuhan.

Pada biji kacang tanah yang diberi herbisida 2 ml hanya menunjukkan adanya perubahan bahwa biji kacang hanya mengalami pecah-pecah pada kulitnya. Seharusnya biji yang diberi herbisida akan menunjukkan gejala yang telah dijelaskan sebelumnya saat membahas kacang hijau. Namun bisa saja perkecambannya lebih cepat dari kacang hijau karena kulitnya lebih tipis dari kacang hijau.

Pada kacang merah tidak menunjukkan gejala apapun. Semua kering dan tidak berkecambah. Karena kering maka kacang merah tetap mengalami dormansi akibat terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan.

Sedangkan pada pada biji flamboyan dan asam yang merupakan biji berkulit tebal mengalami perkecambahan dengan jumlah relatif kecil. Untuk biji flamboyan yang diamplas dan diberi perlakuan sama seperti pada biji kacang hijau menunjukkan perkecambahan sebesar 20% dan 80 % yang lainnya hanya terpecah kulitnya. Adapun untuk biji berkulit tebal yang tidak diamplas, baik biji flamboyan maupun asam tidak menunjukan adanya proses perkecambahan.

Sedikitnya biji berkulit tebal yang berkecambah menunjukkan bahwa biji tersebut mengalami dormansi. Hal ini terjadi karena biji yang terlalu tebal menyebabkan air dan oksigen susah masuk ke dalam biji tersebut sehingga embrio tidak bisa melakukan proses pertumbuhan.

Tujuan dari pengamplasan biji flamboyan dan asam adalah untuk mempertipis kulit biji agar air dan oksigen bisa masuk ke dalamnya. Hal ini terbukti bahwa pada biji flamboyan dan asam yang diamplas menunjukkan adanya proses perkecambahan yang lebih baik jika dibandingkan dengan biji flamboyan dan asam yang tidak diampelas terlebih dahulu. Hal ini juga membuktikan bahwa proses perkecambahan pada biji kulit tebal seperti biji flamboyan dan asam lebih lambat jika dibandingkan dengan biji berkulit tipis seperti kacang hijau sehingga diperlukan pengampelasan untuk mempercepat pematahan masa dormansi biji agar bisa berkecambah.

Gejala-gejala diatas menununjukkan kondisi lingkungan biji yang kurang menguntungkan akibatnya biji tetap mengalami dormansi. Walaupun ada yang berkecambah namun sangat sedikit dan lambat sekali. Keadaan yang kurang menguntungkan tersebut adalah kondisi lingkungan yang kering atau tidak basah. Selain itu waktu yang hanya tiga hari tidak cukup untuk mengamati perkecambahan hingga pertumbuhan sampai menjadi tanaman, apa lagi pada biji yang berkulit tebal. Seharusnya kita bisa mengamati pengaruh ketebalan biji dan zat kimia pada proses perkecambahan jika waktunya lebih lama.

KESIMPULAN

Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji.

  1. Proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting yaitu absorbsi air, metabolisme, pemecahan materi, proses transport materi, pembentukkan kembali materi baru, respirasi, dan pertumbuhan. Penambahan zat kimia seperti herbisida dan NaCl menghambat proses perkecambahan. Semakin tinggi konsentrasi herbisida dan NaCl, semakin lambat proses perkecambahan.
  2. Biji kulit tipis mengalami perkecambahan lebih cepat dari pada biji kulit tebal.Pengamplasan biji kulit tebal mempercepat pematahan masa dormansi biji  jika dibandingkan dengan biji kulit tebal yang tidak diamplas.
  3. Ketersediaan dan banyaknya air mempengaruhi perkecambahan pada biji. Terlalu banyak air akan berdampak negatif terhadap proses perkecambahan. Namun jika sampai kering maka tidak akan terjadi perkecambahan.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Gramedia

Salisbury, Frank B dan Cleon Wross. 1985. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB   Bandung.

Suyitno Al.MS. 2007. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar. Yogyakarta : UNY

About these ads

6 responses to this post.

  1. Posted by uhuy on Mei 11, 2010 at 11:16 am

    selax

    Balas

  2. salam kenla…..^^
    aku dr bio univ negeri surabaya.
    smester ne dapat fistum juga ya?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: