Teori Evolusi

Periode perkembangan teori evolusi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Periode Sebelum Charles Darwin

a. Anaximander

Filsuf Yunani, ± 350 tahun sebelum Masehi.

b. Plato (428-348 SM)

Membayangkan pencipta yang menciptakan dunia dari kehancuran kemudian menciptakan para dewa yang akan membuat manusia berjenis kelamin laki-laki. Perempuan dan hewan muncul dari hasil reinkarnasi jiwa laki-laki, makin cacat jiwa tersebut, makin rendah reinkarnasinya.

c. Aristoteles

Filsuf Yunani, ± 350 tahun sebelum Masehi. Dia merupakan murid Plato yang menyusun seluruh organisme ke dalam suatu ”skala alami”. Skala tersebut meliputi tingkat sederhana hingga tingkat paling kompleks.

d. Carolus Linnaeus (1707-1778)

Ahli botani dan fisika asal Swedia. Ia dikenal sebagai bapak taksonomi karena menemukan sistem penamaan dan klasifikasi makhluk hidup pada tahun 1753. Ia menunjukkan bahwa seluruh dunia kehidupan dapat diatur dalam hierarki yang apabila digambarkan dalam bentuk diagram, menyerupai silsilah. Setelah Linnaeus, para naturalis sering menanggap bahwa makhluk hidup saling ‘berkerabat’ namun mereka belum tahu apa penyebabnya. Secara ironis sistem klasifikasi yang ia buat menjadi petunjuk penting dalam argumen Charles Darwin tentang evolusi.

e. Count de Buffon (ahli ilmu pengetahuan alam, 1707-1788)

Dengan tegas menolak gagasan adanya ciptaan khusus. Variasi-variasi kecil yang terjadi karena pengaruh alam sekitar diwariskan hingga terjadi penimbunan variasi.

f.  Erasmus Darwin (1731-1802)

Kakek dari Charles Darwin. Ia merupakan seorang naturalis dan ahli fisika yang berpendapat bahwa kemungkinan kehidupan di bumi memiliki asal usul yang sama. Ia juga menyatakan bahwa fungsional terhadap stimulasi adalah diwariskan.

g. Jean Baptiste de Lamarck (biologiwan Perancis, 1744-1824)

Teori ini disebut juga teori “use and disuse” artinya “use” adalah organ yang sering dipakai akan tumbuh sempurna sedangkan “disuse” adalah organ tubuh yang jarang dipakai akan menyusut. Idenya mengenai evolusi dituangkan dalam bukunya: “Philosophie zoologique”. Inti isi buku tersebut adalah:

  • Alam sekitar/lingkungan (environment) mempunyai pengaruh pada ciri-ciri/sifat-sifat yang diwariskan.
  • Organ yang digunakan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan akan berkembang, sedang yang tidak digunakan akan mengalami kemunduran.
  • Ciri-ciri/sifat-sifat yang didapat (acquired characters) akan diwariskan kepada keturunannya.

h. Baron George Cuvier (geologiwan Inggris, 1797-1875)

Mengemukakan bahwa sejarah kehidupan tercatat di dalam lapisan-lapisan bumi yang mengandung fosil dengan ciri khasnya masing-masing.

Pada lapisan bumi yang tua (terdalam) terdapat jenis flora dan fauna yang berbeda dengan kehidupan modern. Pada tiap lapisan muncul spesies baru yang tidak muncul kembali pada lapisan yang lain. Cuvier beranggapan bahwa pergantian (suksesi) spesies dari suatu fauna disebabkan oleh serangkaian bencana besar (katastropfe) kemudian disusul dengan penciptaan spesies. Pandangan tersebut disebut katastrofisme.

i.  Charles Lyell

Prinsip uniformitarianisme yang dikemukakannya, yang menyatakan bahwa gunung, lembah dan ciri-ciri fisik permukaan bumi tidak diciptakan dengan bentuk seperti saat ini atau tidak terbentuk oleh bencana berturut-turut tetapi terbentuk oleh proses vulkanisme, pergolakan dan proses lainnya secara berkelanjutan dalam jangka waktu lama dan hingga saat ini masih berlangsung, sangat berarti bagi perkembangan pemikiran evolusi.

2. Periode Charles Darwin

1.   Charles Robert Darwin

Darwin sudah lama berpikir tentang evolusi, ide bahwa semua species berhubungan satu sama lain dan mempunyai “common ancestor” (berasal dari satu garis keturunan) dan melalui mutasi species baru muncul. Namun dia masih penasaran tentang mekanisme bagaimana proses itu terjadi. Secara kebetulan, ia membaca tulisan-tulisan Thomas Malthus. Malthus berpendapat bahwa populasi manusia bertambah lebih cepat daripada produksi makanan, sehingga menyebabkan manusia bersaing satu sama lain untuk memperebutkan makanan dan menjadikan perbuatan amal sia-sia. Darwin menggunakan mekanisme ini untuk menjelaskan teorinya. Ia menulis: “Manusia cenderung untuk bertambah dalam tingkat yang lebih besar daripada caranya untuk bertahan”. Akibatnya, sesekali ia harus berjuang keras untuk bertahan, dan seleksi alam akan mempengaruhi apa yang terletak di dalam jangkauan ini.” (Descent of Man, Ps.21) Ia menghubungkan hal ini dengan temuan-temuannya mengenai spesies-spesies yang terkait dengan tempat-tempat, penelitiannya tentang pengembangbiakan binatang, dan gagasan tentang “hukum seleksi alam” (Natural Selection). Menjelang akhir 1838 ia membandingkan ciri-ciri seleksi para peternak dengan seleksi alam menurut teori Malthus dari varian-varian yang terjadi “secara kebetulan” sehingga “setiap bagian dari struktur yang baru diperoleh sepenuhnya dipraktikkan dan disempurnakan”, dan menganggap bahwa ini adalah “bagian yang paling indah dari teori saya” tentang bagaimana spesies-spesies itu bermula.

Darwin Finches

Paruh burung finch (sejenis burung manyar) menjadi topik pemikiran Darwin yang mendasari evolusi teorinya. Ketika berada di kepulauan Galapagos, bagian dari ekspedisi HMS Beagle, Darwin melihat bahwa paruh burung finch berbeda-beda, tergantung dari pulau mana asalnya. Ini adalah salah satu contoh bagaimana burung finch menyesuaikan diri dengan kondisi pulau yang berbeda-beda. Contohnya, di pulau yang satu, paruh burung finch kuat dan pendek dan cocok untuk memecahkan kulit kacang yang keras. Di pulau lainnya, paruh burung finch sedikit lebih panjang dan lebih tipis, cocok untuk mengisap jenis makanan yang berada di pulau itu. Hal ini membuat Darwin berpikir akan suatu kemungkinan bahwa burung finch tidak diciptakan begitu saja, melainkan melalui proses adaptasi.

Waktu adalah faktor penting dalam evolusi. Proses evolusi memerlukan waktu yang sangat lama. Menurut Darwin, ada dua mekanisme yang mendasari evolusi. Pertama, proses evolusi membawa spesies yang ada untuk berinteraksi dengan kondisi ekologinya. Contohnya, karena hasi evolusi, beberapa burung mempunyai paruh yang hanya bisa dipakai untuk menghisap madu bunga. Selama bunga itu masih tersedia, burung ini akan hidup. Tetapi, bila bunga ini, karena sesuatu hal, punah, maka burung itu kemungkinan besar akan punah juga. Mekanisme yang kedua adalah kelahiran spesies baru dari hasil variasi di spesies yang ada. Ini terjadi bila suatu group makhluk hidup menjadi terpisah dan pada akhirnya mempunyai gaya hidup yang sangat berbeda. Contoh klasik adalah burung finch di atas. Asal mulanya, nenek moyang burung dari bermacam pulau di Galapagos adalah berasal dari daratan Amerika Selatan. Karena bertebaran di bermacam pulau, burung ini akhirnya mengembangkan gaya hidup yang berbeda-beda. Waktu (melalui banyak generasi burung) dan perjuangan untuk hidup (survival) adalah dua hal yang dibutuhkan untuk melahirkan generasi baru burung finch. Waktu yang lebih panjang lagi dan melalui proses yang sama, menurut Darwin akan dapat menjelaskan evolusi dari semua makhluk hidup di muka bumi yang berasal dari satu “common ancestor”.

Dalam buku “On The Origin Of Species By Means Of Natural Selection” berisi dua teori pokok:

  • Species yang hidup sekarang dari species-species yang hidup pada masa lampau.
  • Prinsip evolusi terjadi karena adanya seleksi alam.

Seleksi alam adalah alam menyeleksi terhadap individu-individu yang hidup di dalamnya, hanya individu yang dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya yang dapat hidup/survive.

Ajaran teori evolusi oleh Darwin didasarkan pada pokok-pokok pikiran yaitu:

  • Tidak ada individu yang sama, artinya adanya variasi di dalam satu keturunan.
  • Setiap makhluk hidup mempunyai kecenderungan untuk bertambah karena perkembangbiakan.
  • Perkembangbiakan memerlukan makanan dan ruangan yang cukup memadai.
  • Pertambahan populasi tidak berjalan terus menerus.

2.   Alfred Russel Wallace (1823-1913)

Alfred Russel Wallace adalah seoring naturalis Inggris yang hidup semasa dengan Darwin. Wallace secara terpisah juga memikirkan teori evolusi identik dengan Darwin. Darwin dan Wallace cukup lama berkorespondensi secara ilmiah. Wallace banyak mengirim spesies-spesies penemuan baru dari Asia ke Darwin untuk diteliti. Teori tentang evolusi, menurut Wallace sendiri, adalah hasil pemikiran yang datang secara spontan. Di lain pihak, teori evolusi Darwin adalah hasil pemikiran secara metodis selama bertahun-tahun. Ironisnya, Darwin menjadi sangat jauh terkenal daripada Wallace sendiri. Namun demikian, Wallace adalah salah satu pembela Darwin dan teorinya dimasa kontroversial setelah buku “The Origin of Species” diterbitkan.

3. Periode Setelah Charles Darwin

1. T. Dozhansky dan G.G. Simpson

T. Dozhansky adalah perintis genetika populasi sedangkan G.G. Simpson adalah ahli paleontologi vertebrata. Keduanya tergabung dalam pelopor pandangan sintetik NeoDarwin yang menyatakan bahwa seleksi alam bukan merupakan satu-satunya faktor yang terlibat dalam perubahan evolusioner.

2. Ernst Mayer

Ia merupakan ahli sistematik dan pengetahuan alam lapangan. Ia juga tergabung dalam pelopor pandangan sintetik NeoDarwin.

Menurut Ernst Mayr (2001), Darwin mengajukan lima teori perihal evolusi:

  • Bahwa kehidupan tidak tetap sama sejak awal keberadaannya.
  • Kesamaan leluhur bagi semua makhluk hidup.
  • Evolusi bersifat gradual (berangsur-angsur).
  • Terjadi pertambahan jumlah spesies dan percabangan garis keturunan.
  • Seleksi alam merupakan mekanisme evolusi.
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: