Tedhak Siten

TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

KAJIAN BUDAYA

TEDHAK SITEN


DISUSUN OLEH :

HENY DWI KURNIAWATI

08308144008


PROGRAM STUDI BIOLOGI SWADANA

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010

 

TEDHAK SITEN

Membicarakan masalah pelestarian warisan budaya dan lingkungan hidup di Jawa khususnya Surakarta dan Yogyakarta tidak akan pernah lepas dari permasalahan bagaimana cara mempertahankannya. Amanat warisan budaya hendaknya kita emban dengan usaha pelestarian dan pemanfaatan secara positif karena terlalu sarat dengan nilai-nilai filosofi, etika, dan pesan moral untuk senantiasa kita dalami, pelihara, bina dan kembangkan demi kepentingan hidup manusia secara utuh dan menyeluruh.

Sebagai salah satu warisan budaya, upacara tradisi adalah salah satunya. Unsur-unsur budaya Jawa intangible  yang masih terpelihara diantaranya adalah nilai-nilai luhur (value) dan keyakinan-keyakinan (beliefs) yang digunakan sebagai rencana atau pedoman perilaku atau adat serta memecahkan masalah-masalah yang berlaku dari generasi ke generasi.

Nilai-nilai budaya lain yang bersifat simbolis sering dimanifestasikan ke dalam bentuk upacara adat  seperti bermacam-macam upacara tradisional untuk bayi yang baru lahir; yaitu mitoni (tingkepan), brokohan, sepasaran, selapanan, tedhak siti, ngruwat (ruwatan), dan khitanan. Upacara adat sendiri yang sampai saat ini masih sering dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Jawa pada umumnya mempunyai fungsi spiritual yaitu memberikan petunjuk atau gambaran hubungan manusia dengan Tuhan, hal ini memenuhi kebutuhan rohani manusia fungsi sosial dimana dalam upacara melibatkan individu-individu warga masyarakat yang mempunyai kepentingan sama, yang dilandasi  oleh kepercayaan dan keyakinan yang sama pula, sehingga dapat menciptakan kerukunan sosial dan membawa dampak terwujudnya ketenangan, ketentraman dan kesejahteraan hidup.

Tedhak Siten adalah salah satu upacara adat budaya Jawa. Tedhak siten atau dhun-dhunan (ada juga yang menyebut dengan mudhun) lemah atau turun tanah merupakan upacara yang dilakukan sebagai peringatan bagi manusia akan pentingnya makna hidup di atas bumi yang mempunyai relasi, yaitu relasi antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan lingkungan alam. Artinya, upacara tedhak siten merupakan suatu upacara yang mengandung harapan orangtua terhadap anaknya agar si anak nantinya menjadi orang yang berguna bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Harapan orangtua ini termanifestasikan dalam suatu upacara yang diselenggarakan pada masa kanak-kanak yang dinamai upacara tedhak siten.

Tedhak siten berasal dari dua kata, yaitu tedhak dan siten. Tedhak berarti dekat, turun. Siten berasal dari kata dasar ‘siti’ yang berarti tanah dan akhiran ‘an’ yang melengkapi arti kata tanah. Artinya, tedhak siten merupakan suatu upacara sebagai tanda atau simbol bahwa si anak pertama kali menginjak atau turun ke tanah secara resmi sebagai suatu upaya untuk memperkenalkan anak pada bumi (tanah).

Tedhak siten dilakukan pada waktu bayi berumur tujuh lapan (satu lapan sama dengan 35 hari). Simbol yang tersirat dalam tedhak siten adalah mengungkapkan masa depan bayi. Sedangkan maksud diadakannya tedhak siten adalah kelak kalau anak sudah dewasa akan kuat dan mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan yang penuh tantangan dan harus dihadapinya untuk mencapai cita-cita. Selain itu upacara ini mewujudkan rasa syukur karena pada usia ini si anak akan mulai mengenal alam di sekitarnya dan mulai belajar berjalan. Tujuan lain dari upacara ini adalah untuk mengenalkan sang buah hati kepada ibu pertiwi. “Karena dalam pepatah Jawa mengatakan ‘Ibu Pertiwi Bopo Angkoso’ yang berarti bumi sebagai ibu dan langit sebagai bapak.

Dalam upacara adat ini ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh si anak, di mana tiap tahap atau proses tersebut memiliki nilai-nilai budaya yang cukup tinggi. Jalannya upacara ini adalah sebagai berikut:

Pertama, orangtua anak membimbing si anak menginjakkan kakinya di tanah kemudian menginjakkannya ke juadah yang berjumlah tujuh. Lalu anak dibimbing menaiki tangga tebu. Setelah sampai pada tebu yang teratas, lalu diturunkan untuk menapaki juadah itu lagi. Turun dari tangga tebu, si anak  dituntun untuk berjalan dionggokan pasir. Disitu dia mengkais pasir dengan kakinya, bahasa Jawanya ceker-ceker, yang arti kiasannya adalah mencari makan. Maksudnya si anak setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak dibimbing untuk masuk kurungan ayam. Di dalam kurungan ayam tersebut terdapat beberapa barang seperti barang perhiasan, alat-alat tulis, padi, barang-barang mainan, dan lain-lain. Anak biasanya tertarik untuk memperhatikan dan kemudian mengambil barang yang tersedia. Kemudian Ayah dan kakek si bocah menyebar udik-udik, yaitu uang logam dicampur berbagai macam bunga. Maksudnya si anak sewaktu dewasa menjadi orang yang dermawan, suka menolong orang lain. Karena suka menberi, baik hati, dia juga akan mudah mendapatkan rejeki. Setelah selesai, anak dimandikan dengan air kembang setaman lalu pakaian dikenakan. Dengan demikian, selesailah upacara tedhak siten.

Uba rampe yang diperlukan dalam upacara tedhak siten adalah antara lain:

  1. Nasi tumpeng
  2. Jenang (bubur) merah dan putih
  3. Jenang boro-boro
  4. Jajan pasar selengkap-lengkapnya
  5. Juadah tujuh warna
  6. Kembang setaman
  7. Tangga yang terbuat dari tebu
  8. Sangkar (kurungan) ayam dihiasi janur kuning dan kertas warna-warni.
  9. Padi, kapas, kembang telon (tiga macam bunga, yaitu melati, mawar, dan kenanga).
  10. Beras kuning dan beberapa lembar/coin uang
  11. Barang-barang perhiasan, antara lain: kalung, gelang, peniti
  12. Barang-barang yang bermanfaat, misalnya buku dan alat-alat tulis.

Upacara tedhak siten yang diselenggarakan pada waktu anak berusia 7 lapan memiliki lambang yang dapat ditafsirkan sebagaai berikut:

  • Tangga tebu wulung (tebu hitam) : Mantapnya hati, pendirian yang teguh.
    Menaiki tebu wulung : untuk menggambarkan perjalanan hidup dan mencapai cita-cita yang tinggi dan luhur. Menandakan si anak mengenal kenyataan hidup yang akan dilalui di kemudian hari. Tangga tebu melambangkan tingkat-tingkat kehidupan yang mengandung harapan suatu ketetapan hati (antebing kalbu, Jawa) dalam mengejar tingkatan hidup yang lebih baik.
  • Kurungan jago melambangkan dunia fana yang terbatas, atau suatu lingkungan masyarakat yang akan dimasukinya dengan mematuhi segala peraturan dan adat istiadat setempat. Kurungan yang dihiasi dengan berbagai macam mainan : maknanya menggambarkan dunia dengan berbagai pilihan untuk hidup di kemudian hari.
  • Jadah terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan kelapa dan garam, dikukus dan dihaluskan kemudian dicetak sesuai dengan kebutuhan. Rasanya gurih, namun setelah diberi beberapa warna alami, rasa dan makna yang dikandung pun jadi lain. Makna yang terkandung dari jadah adalah perjalanan hidup yang akan dilalui oleh si anak. Menggambarkan kehidupan yang penuh cobaan, suka dan duka sehingga membutuhkan keuletan. Juadah tujuh macam warna melambangkan suatu harapan agar anak dalam setiap harinya dapat mengatasi berbagai macam kesulitan.

Makna yang dikandung dalam jadah tujuh warna adalah:

  1. Putih : kesucian
  2. Merah Muda : kelembutan hati
  3. Merah : keberanian
  4. Hijau : kehidupan
  5. Kuning : bersinar
  6. Ungu : keluhuran budi
  7. Hitam : keabadian
  • Kembang setaman melambangkan sifat suci dalam tingkatan hidup yang akan dijalani. Mandi dengan air setaman : Menggambarkan bahwa anak tetap sehat jasmani dan rohani. Membawa keharuman nama keluarga.
  • Barang-barang perhiasan melambangkan kekayaan
  • Kapas, padi, dan beras mengandung makna berupa harapan agar anak kelak selalu kecukupan sandang pangan.
  • Jenang blowok : Terdiri dari jenang merah putih dan jenang katul (bekatul) yang melambangkan perjalanan hidup itu tidak selalu mulus, kadang-kadang terperosok (keblowok – bahasa Jawa).
  • Udik-udik : beras kuning yang dicampur dengan empon-empon, uang logam dan bunga mawar dan melati yang melambangkan agar si anak suka menolong orang lain dengan memberikan sebagaian hartanya kepada orang yang membutuhkan.

Ringkasan Jalannya Upacara Tedhak Siten

No. Acara Makna
1. Orangtua anak membimbing si anak menginjakkan kakinya di tanah kemudian menginjakkannya ke juadah yang berjumlah tujuh perjalanan hidup yang akan dilalui oleh si anak. Menggambarkan kehidupan yang penuh cobaan, suka dan duka sehingga membutuhkan keuletan. Juadah tujuh macam warna melambangkan suatu harapan agar anak dalam setiap harinya dapat mengatasi berbagai macam kesulitan.
2. Anak dibimbing menaiki tangga tebu. Setelah sampai pada tebu yang teratas, lalu diturunkan untuk menapaki juadah itu lagi. untuk menggambarkan perjalanan hidup dan mencapai cita-cita yang tinggi dan luhur. Menandakan si anak mengenal kenyataan hidup yang akan dilalui di kemudian hari. Tangga tebu melambangkan tingkat-tingkat kehidupan yang mengandung harapan suatu ketetapan hati (antebing kalbu, Jawa) dalam mengejar tingkatan hidup yang lebih baik.
3. Anak  dituntun untuk berjalan dionggokan pasir Mencari makan. Maksudnya si anak setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
4. Anak dibimbing untuk masuk kurungan ayam. Di dalam kurungan ayam tersebut terdapat beberapa barang seperti barang perhiasan, alat-alat tulis, padi, barang-barang mainan, dan lain-lain. Melambangkan dunia fana yang terbatas, atau suatu lingkungan masyarakat yang akan dimasukinya dengan mematuhi segala peraturan dan adat istiadat setempat. Kurungan yang dihiasi dengan berbagai macam mainan : maknanya menggambarkan dunia dengan berbagai pilihan untuk hidup di kemudian hari.
5. Ayah dan kakek si bocah menyebar udik-udik, yaitu uang logam dicampur berbagai macam bunga. Maksudnya si anak sewaktu dewasa menjadi orang yang dermawan, suka menolong orang lain. Karena suka menberi, baik hati, dia juga akan mudah mendapatkan rejeki.
6. Anak dimandikan dengan air kembang setaman lalu pakaian dikenakan Menggambarkan bahwa anak tetap sehat jasmani dan rohani. Membawa keharuman nama keluarga.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://jagadkejawen.com/id/upacara-ritual/tedhak-siten diakses pada hari Rabu, tanggal 13 Oktober 2010 pukul        19.00 WIB

http://masduljoni.multiply.com/journal/item/7 diakses pada hari Rabu, tanggal 13 Oktober 2010 pukul 19.00 WIB

http://www.tembi.org/tembi/tedhak_siten.htm diakses pada hari Rabu, tanggal 13 Oktober 2010 pukul 19.00 WIB

http://www.koranjitu.com/lifestyle/kotaku%20cintaku/what%20is%20a%20name/detail_berita.php?ID=31 diakses pada hari Rabu, tanggal 13 Oktober 2010 pukul 19.00 WIB

Kearifan Lokal Masyarakat Toro

TUGAS PENGELOLAAN LINGKUNGAN

PERAN SERTA MASYARAKAT TRADISIONAL DALAM MENGELOLA LINGKUNGAN

“KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT TORO DALAM MENGELOLA SDA”

Disusun oleh:

HENY DWI KURNIAWATI

08308144008

BIOLOGI SWADANA

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010


KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT TORO

Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu, dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu. Kearifan lokal juga dapat diartikan sebagai bagian dari sistem budaya, biasanya berupa larangan-larangan yang mengatur hubungan sosial maupun hubungan manusia dengan lingkungan alamnya. Kearifan lokal berfungsi untuk menjaga kelestarian dan kesinambungan “aset” yang dimiliki suatu masyarakat sehingga masyarakat dapat terpenuhi kebutuhannya dari generasi ke generasi berikutnya, tanpa harus merusak atau menghabiskan “aset” tersebut. Oleh sebab itu, kearifan lokal selalu dijadikan pedoman atau acuan oleh masyarakat dalam bertindak atau berperilaku dalam kehidupannya.

Salah satu contohnya adalah masyarakat Toro yang tinggal di Ngata (Desa) Toro, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu masyarakat yang masih berpedoman pada kearifan sosial dalam mengelola lingkungannya. Dalam adat masyarakat Toro terdapat pembagian alam ke dalam zona-zona tertentu, dimana pembagian ini berdasarkan sejarah pembukaan lahan dan sistem perladangan bergilir yang dipraktekkan oleh masyarakat Toro tersebut, diantaranya:

  1. Wana Ngkiki, yang merupakan zona inti atau hutan primer. Dimana di zona ini dilarang melakukan ekploitasi hutan. Zona ini didominasi oleh rerumputan, lumut, dan perdu. Dan oleh masyarakat Toro, zona ini dianggap penting karena dianggap sebagai sumber udara segar. Di kawasan ini tidak mengakui adanya hak kepemilikan individu (Dodoha).
  2. Wana, yaitu hutan primer yang merupakan habitat hewan dan tumbuhan langka, dan juga sebagai kawasan tangkapan air. Di zona ini terdapat larangan untuk tidak membuka lahan pertanian. Oleh karena itu, zona ini hanya dimanfaatkan untuk kegiatan mengambil getah damar, wewangian, obat-obatan, dan rotan. Kepemilikan pribadi (Dodoha) di kawasan ini berlaku hanya pada pohon damar dimana penentuannya tergantung pada siapa yang pertama kali mengolahnya. Sedangkan sumber daya alam selebihnya sebagai hak penguasaan kolektif.
  3. Pangale, merupakan kawasan hutan semi primer, dimana hutan ini sudah pernah diolah menjadi kebun tetapi telah ditinggalkan selama puluhan tahun sehingga menjadi hutan kembali. Zona Pangale ini biasanya juga dimanfaatkan untuk mengambil rotan dan kayu untuk bahan bangunan dan keperluan rumah tangga, pandan hutan untuk membuat tikar dan bakul, bahan obat-obatan, getah damar dan wewangian. Tetapi kesemuanya itu juga harus berdasarkan izin dari lembaga adat atau pemerintah desa terlebih dahulu.
  4. Pahawa pongko, merupakan hutan bekas kebun yang telah ditinggalkan selama 25 tahun keatas sehingga hampir sama dengan Pangale. Pohon-pohonnya sudah besar sehingga untuk menebangnya diperlukan pongko (pijakan yang terbuat dari kayu) yang cukup tinggi, sedangkan tonggaknya diharapkan dapat tumbuh tunas kembali.
  5. Oma, merupakan hutan belukar yang terbentuk dari bekas kebun, dimana bekas kebun ini sengaja dibiarkan untuk diolah lagi dalam jangka waktu tertentu menurut masa rotasi dalam sistem peladangan bergilir. Dan pada kawasan Oma ini sudah diakui adanya hak kepemilikan pribadi (Dodoha). Berdasarkan urutan pergiliran tersebut, kawasan Oma ini terbagi menjadi 3 kategori, yaitu:
  • Oma ntua, merupakan jenis yang paling tua atau paling lama karena lahan ini dibiarkan selama 16 hingga 25 tahun. Sehingga tingkat kesuburan tanahnya sudah pulih dan dapat dijadikan kebun kembali.
  • Oma ngura, merupakan kategori yang lebih muda karena dibiarkan selama 3 sampai 15 tahun, didominasi rerumputan dan belukar. Dan pohon-pohonnya belum terlalu besar.
  • Oma nguku, yaitu apabila bekas kebun tersebut baru dibiarkan kurang dari 3 tahun, sehingga lahan ini masih didominasi oleh rerumputan, ilalang, dan semak belukar

6. Balingkea, merupakan bekas kebun yang sudah harus diistirahatkan karena kesuburannya sudah berkurang. Tetapi lahan ini masih bisa diolah untuk ditanami palawija. Dan dalam kawasan ini hak kepemilikan pribadi (Dodoha) diakui.

Selain berladang, masyarakat Toro juga mempraktekkan sistem pertanian sawah menetap (Polidaa). Dalam adat Toro juga terdapat larangan terhadap perburuan Anoa karena merupakan hewan yang dilindungi dan dianggap sebagai hewan adat yang hanya boleh dimakan saat upacara adat, Babirusa juga dilindungi karena bentuk fisiknya yang unik, dan masih banyak binatang lainnya.

Kearifan lokal masyarakat Toro dapat terlihat pada pembagian zona-zona tersebut. Selain itu juga pada pembukaan lahan, dimana kawasan Oma merupakan lahan yang dapat dibuka, sedangkan Pangale tidak boleh dibuka. Dan setiap akan membuka lahan, diwajibkan untuk mengajukan permohonan terlebih dahulu kepada pemerintah desa melalui LMA (Lembaga Masyarakat Adat) dengan mencantumkan luas lahan yang dibutuhkan. Setelah diijinkan, pembukaan lahan didahului dengan upacara adat ”Mohamele manu bula”. Dalam hal pengambilan kayu pun harus mengajukan permohonan dan bila sudah mendapat ijin maka harus didahului dengan upacara adat ”Mowurera pu kau”. Adapun syarat kayu yang bisa ditebang harus berdiameter minimal 60 cm, dan juga penebangan tidak boleh dilakukan di daerah Taolo, yaitu lokasi yang bertopografi miring sepanjang daerah aliran sungai dan di tempat yang rawan longsor dan erosi. Dalam hal pemanenan rotan juga ada aturannya, dimana rotan yang akan dipanen harus berumur diatas tiga tahun dan penetapan lokasi penebangannya ditentukan oleh hasil musyawarah lembaga adat dengan memperhatikan prinsip rotasi.

REFERENSI

http://images.muryanto.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SHauPwoKCCwAAFrAkvA1/makalah_lengkap.zip?nmid=105079214 diakses pada hari Minggu tanggal 17 April 2010 pukul 10.00 WIB

http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:ryQhtGsBbCYJ:fwi.or.id/publikasi/intip_hutan/komunitas_adattoro.pdf+masyarakat+toro&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESj4ZzK8ONVSBz4te3FeSVdwHYgzL2B1iHdITEhb6dhLNzyqtboFYS70XuNF9IibpavoUoDpfNRE2n3zIY3Pi56LXycfk7AyYRi6nmveHZnDL_Hwea9OVzuTi6U-E4XjlTQcucQY&sig=AHIEtbQNT_YAkWM_S7d0E826b2g6WkOXDQ diakses pada hari Minggu tanggal 17 April 2010 pukul 10.03 WIB

http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:kUf6OMq8hNsJ:www.wg-tenure.org/file/Warta_Tenure/Edisi_04/Warta_Tenure_04j.pdf+masyarakat+toro&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESjHTG0lFpVvC-mEnFPWG5sok3Q6gacZ5P16T0h-Qs0Wzq0ZdqezhIHHMuRII1xI3BSEryc8NnUVtO0jvnhei41gc1vjBaGD3BeVkBrjdd5DCcqFg38RbSPJBq_y0t6YM_eJ4DmH&sig=AHIEtbQzbvfV_Juq1mKKF6ZMnTcNqbJFaQ diakses pada hari Minggu tanggal 17 April 2010 pukul 10.05 WIB

Pencemaran Udara

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Sumber daya alam di Indonesia adalah segala potensi alam yang dapat dikembangkan untuk proses produksi. Sumber daya alam ialah semua kekayaan alam baik berupa benda mati maupun benda hidup yang berada di bumi dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sumber daya alam (SDA) adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan hidup. Ketersediaan sumber daya alam untuk memenuhi kebuuhan dasar, dan tersedianya cukup ruang untuk hidup pada tingkat kestabilan sosial tertentu disebut daya dukung lingkungan. Singkatnya, daya dukung lingkungan ialah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan semua makhluk hidup.

Adapun ketahanan dan keberlanjutan ekologi mengacu kepada ketersediaan daya dukung tanah, air, udara, dan keanekaragaman kehidupan dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi, ketahanan sosial mengacu kepada daya dukung kelembagaan sosial, baik pada aspek politik, ekonomi, dan budaya, sehingga reformasi pengelolaan lingkungan hidup harus mengacu kepada upaya penguatan ketahanan dan keberlanjutan ekologi dan sosial ini.

Permasalahan sumber daya alam umumnya terjadi akibat adanya eksploitasi yang berlebihan. Eksploitasi sumber daya alam yang hanya berorientasi ekonomi hanya membawa efek positif secara ekonomi tetapi menimbulkan efek negatif bagi kelangsungan kehidupan umat manusia.
Kesalahan dalam pengelolaan dapat berpotensi mempercepat terjadinya kerusakan sumber daya alam, termasuk kerusakan hutan lindung, pencemaran udara, hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan konservasi alam, dan sebagainya. Seperti pencemaran udara dapat terjadi sebagai hasil limbah industri, limbah pertambangan, asap rokok, asap kendaraan bermotor karena mengeluarkan karbon monoksida, karbon dioksida, belerang dioksida yang menyebabkan udara tercemar. Untuk itu perlu diketahui cara penanggulangan pencemaran, dalam makalah ini adalah pencemaran udara.

II. TUJUAN

  1. Mengetahui pencemaran udara dan sumbernya.
  2. Mengetahui efek dari pencemaran udara.
  3. Mengetahui cara-cara penanggulangan pencemaran udara.

BAB II

ISI

Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi. Komposisi campuran gas tersebut tidak selalu konstan. Komponen yang konsentrasinya paling bervariasi adalah air dalam bentuk uap H2O dan karbondioksida (CO2). Jumlah uap air yang terdapat di udara bervariasi tergantung dari cuaca dan suhu.

Udara di alam tidak pernah dijumpai dalam keadaan bersih tanpa polutan sama sekali. Beberapa gas seperti sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), dan karbonmonoksida (CO) selalu dibebaskan ke udara sebagai produk sampingan dari prose salami seperti aktivitas vulkanik, pembusukan sampah tanaman, kebakaran hutan dan sebagainya. Selain itu partikel-partikel padat atau cair brukuran kecil dapat tersebar di udara oleh angin, letusan vulkanik atau gangguan alam lainnya. Selain disebabkan oleh polutan alami tersebut, pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh aktivitas manusia.

A. Pencemaran Udara

Menurut Henry C. Perkins, 1974, dalam bukunya Air Polution, pencemaran udara dinyartakan sebagai berikut: Pencemaran udara berarti hadirnya satu atau beberapa kontaminan di dalam udara atmosfir di luar, seperti antara lain:debu, busa, gas, kabut, bau-bauan, asap atau uap dalam kuantitas yang banyak, dengan berbagai sifat maupun lama berlangsungnya di udara tersebut, hingga dapat menimbulkan gangguan-gangguan terhadap kehidupan manusia, tumbuhan atau hewan maupun benda, atau alsa jelas sudah dapat mempengaruhi kelestarian kehidupan organisme maupun benda.

Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/1988, yang dimaksud dengan pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energy dan/atau komponen lain ke dalam udara dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) udara oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Jenis-jenis  pencemaran udara, yaitu menurut bentuk (gas, partikel ) dan menurut tempat (ruangan /indoor dan  udara bebas /outdoor) . Gangguan kesehatan : Iritansia, asfiksia, anetesia, toksis .  Menurut asal : primer, sekunder.

Bahan atau Zat pencemaran udara dapat berbentuk gas dan partikel:

Pencemaran udara berbentuk gas dapat dibedakan menjadi :

  • Golongan belerang terdiri dari sulfur dioksida  (SO2), hidrogen sulfida (H2S) dan sulfat aerosol.
  • Golongan nitrogen terdiri dari nitrogen oksida (N2O), nitrogen monoksida (NO), amoniak (NH3) dan nitrogen dioksida (NO2).
  • Golongan karbon terdiri dari karbon dioksida  (CO2), karbon monoksida (CO), hidrokarbon .
  • Golongan gas yang berbahaya terdiri dari benzen, vinyl klorida, air raksa, uap.

Penyebab Pencemaran Udara

Sumber pencemaran udara berdasarkan pergerakannya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu (Krisnayya dan Bedi, 1986 dan Sutamihardja, 1985 dan KLH 1987 ):

  1. Sumber pencemaran yang tidak bergerak (industri,  pemukiman, dan pembangkit tenaga listrik) yang menghasilkan unsur-unsur polutan ke tmosfir sebagai berikut :  kabut asam, oksida nitrogen, CO, partikel-partikel padat, hidrogen sulfida (H2S), metil merkatan (CH3SH), NH3, gas klorin, H2S, flour, timah hitam, gas-gas asam, seng, air raksa, kadmium, arsen, antimon, radio nuklida, dan asap.
  2. bergerak (kendaraan bermotor atau transportasi) yang  menghasilkan CO, SO2, oksida nitrogen, hidrokarbon, dan partikel-partikel padat.

Menurut Andrews (1972), penyebab pencemaran udara terbagi tiga kelompok, yaitu

  1. Gesekan permukaan, seperti menggergaji, menggali, gesekan (gosokan) dari beberapa bahan (aspal, tanah, besi, dan kayu) yang membuang partikel padat ke udara dengan berbagai ukuran.
  2. Penguapan yang berasal dari cairan yang mudah menguap, seperti bensin, minyak cat, dan uap yang dihasilkan oleh industri logam, kimia dan lainnya.
  3. Pembakaran, seperti pembakaran bahan bakar fosil (minyak, solar, bensin, batubara, pembakaran hutan, dsb.).  Pembakaran tsb. merupakan proses oksidasi sehingga menghasilkan gas-gas CO2, CO, SOx, NOx, atau senyawa hidrokarbon yang tidak terbakar dengan sempurna.

B. Dampak/Efek Dari Pencemaran Udara

Dampak terhadap kesehatan yang disebabkan oleh pencemaran udara akan terakumulasi dari hari ke hari. Pemaparan dalam jangka waktu lama akan

berakibat pada berbagai gangguan kesehatan, seperti bronchitis, emphysema, dan kanker paru-paru. Dampak kesehatan yang diakibatkan oleh pencemaran udara berbeda-beda antarindividu. Populasi yang paling rentan adalah kelompok individu berusia lanjut dan balita. Menurut penelitian di Amerika Serikat, kelompok balita mempunyai kerentanan enam kali lebih besar jika  dibandingkan dengan orang dewasa. Kelompok balita lebih rentan karena mereka lebih aktif dan dengan demikian menghirup udara lebih banyak, sehingga mereka lebih banyak menghirup zat-zat pencemar.

Dampak Pencemaran Udara berupa Gas

No. Bahan Pencemar Sumber Dampak/akibat pada

individu/masyarakat

1. Sulfur Dioksida

(SO2)

Batu bara atau bahan bakar minyak yang  mengandung Sulfur.

Pembakaran limbah

pertanah.

Proses dalam industri.

Menimbulkan efek iritasi pada saluran nafas sehingga menimbulkan gejala batuk dan sesak nafas.
2. Hidrogen Sulfat

(H2S)

Dari kawah gunung

yang masih aktif.

Menimbulkan bau yang tidak sedap, dapat merusak indera penciuman (nervus olfactory)
3. Nitrogen Oksida

(N2O)

Nitrogen

Monoksida (NO)

Nitrogen

Dioksida (NO2)

Berbagai jenis

pembakaran.

Gas buang kendaran

bermotor.

Peledak, pabrik pupuk.

Menggangu sistem pernapasan.

Melemahkan sistem pernapasan paru dan saluran nafas sehingga paru mudah terserang infeksi.

4. Amoniak (NH3) Proses Industri Menimbulkan bau yang tidak

sedap/menyengat.

Menyebabkan sistem pernapasan,

Bronchitis, merusak indera penciuman

5. Karbon Dioksida

(CO2)Karbon

Monoksida

(CO)Hidrokarbon

Semua hasil

pembakaran.Proses

Industri

Menimbulkan efek sistematik, karena meracuni tubuh dengan cara pengikatan

hemoglobin yang amat vital bagi oksigena jaringan tubuh akibatnya apabila otak kekurangan oksigen dapat menimbulkan kematian.

Dalam jumlah kecil dapat menimbulkan gangguan berfikir, gerakan otot, gangguan jantung.

Dampak Pencemaran Udara Berbentuk Partikel

No. Bahan Pencemar Sumber Dampak/akibat pada individu/masyarakat
1. Debu –

partikel

Debu domestik

maupun dari

industri

Gas buang

kendaraan

bermotor

Peleburan timah

hitamPabrik

battere

Menimbulkan iritasi mukosa, Bronchitis, menimbulkan fibrosis paru.

Dampak yang di timbulkan amat membahayakan,

karena dapat meracuni sistem pembentukan darah merah .

Menimbulkan gangguan pembentukan sel darah merah

Pada anak kecil menimbulkan penurunan kemampuan otak

Pada orang dewasa menimbulkan

anemia dan gangguan tekanan darah tinggi.

2. Benzen Kendaraan bermotor. Daerah

industri.

Menimbulkan gangguan syaraf pusat.
3. Partikel

Polutan ersifat

biologis

berupa :

Bakteri,

jamur, virus,

telur cacing

Daerah yang

kurang bersih lingkungannya

Pada pencemaran udara ruangan yang ber AC dijumpai beberapa jenis bakteri yang mengakibatkan penyakit pernapasan

Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan secara tidak langsung. Pencemaran udara selain berdampak langsung bagi kesehatan manusia/individu, juga berdampak tidak langsung bagi kesehatan. Efek SO2 terhadap vegetasi dapat menimbulkan pemucatan pada bagian antara tulang atau tepi daun.  Emisi  oleh fluor  (F),  sulfur dioksida  (SO2) dan  ozon  (O3) mengakibatkan gangguan proses asimilasi pada tumbuhan. Pada tanaman sayuran yang terkena/mengandung pencemar Pb mempunyai potensi bahaya terhadap kesehatan masyarakat apabila tanaman sayuran tersebut dikonsumsi oleh manusia.

Pencemaran udara berdasarkan pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan dibedakan menjadi 3 jenis :

Irintasia. Biasanya  polutan  ini bersifat korosif, merangsang proses peradangan hanya pada saluran pernapasan bagian atas, yaitu saluran pernapasan mulai dari hidung hingga tenggorokkan. Misalnya  sulfur dioksida, sulfur trioksida, amoniak, dan debu. Iritasi terjadi pada saluran pernapasan bagian atas dan juga dapat mengenai paru-paru itu sendiri.

Asfiksia. Hal ini terjadi karena berkurangnya kemampuan tubuh dalam menangkap oksigen atau mengakibatkan kadar O2 menjadi berkurang. Keracunan gas  karbon monoksida mengakibatkan CO akan mengikat hemoglobin,  sehingga kemampuan  hemoglobin  mengikat O2  berkurang dan  terjadilah  asfiksia. Penyebabnya adalah gas nitrogen, oksida, metan, gas hidrogen dan helium.

Anestesia. Bersifat menekan susunan syaraf pusat sehingga kehilangan kesadaran, misalnya aeter, aetilene, propan,e dan alkohol alifatis.

Toksis. Titik tangkap terjadinya berbagai jenis, yaitu : menimbulkan gangguan pada sistem pembuatan darah, misalnya  benzene, fenol, toluen  dan xylene. Keracunan terhadap susunan syaraf, misalnya  karbon disulfid, metil alkohol.

C. Penanggulangan Pencemaran Udara

Kastiyowati menyatakan bahwa penanggulangan  pencemaran udara dapat dilakukan dengan cara mengurangi polutan dengan alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan mendispersikan  polutan.

Penanggulangan pencemaran udara berbentuk gas

No. Bahan Pencemar Penanggulangan Keterangan
1. Sulfur Dioksida

(SO2)

Hidrogen Suldfida

(H2S)

Nitrogen Oksida

(N2O)

Nitrogen Monoksida

NO)

Nitrogen Dioksida

(NO2)

Amoniak (NH3)

Karbondioksidak

(CO2)Karbon

Monoksida

(CO) Hidrokarbon

Absorbsi Dalam proses adsorbsi dipergunakan bahan padat yang dapat menyerap polutan. Berbagai tipe adsorben yang dipergunakan antara lain karbon aktif dan silikat. Adsorben mempunyai daya kejenuhan sehingga selalu diperlukan pergantian, bersifat disposal (sekali pakai buang) atau dibersihkan kemudian dipakai kembali.
Pembakaran Mempergunakan proses oksidasi panas untuk menghancurkan gas hidrokarbon yang terdapat didalam polutan. Hasil pembakaran berupa (CO2) dan (H2O). Alat pembakarannya adalah Burner dengan berbagai tipe dan temperaturnya adalah 1200o-1400oF
Reaksi Kimia Banyak dipergunakan pada emisi

golongan Nitrogen dan golongan Belerang. Biasanya cara kerja ini merupakan kombinasi dengan cara – cara lain, hanya dalam pembersihan polutan udara dengan reaksi kimia yang dominan. Membersihkan gas golongan nitrogen , caranya dengan diinjeksikan Amoniak (NH3) yang akan bereaksi kimia dengan Nox dan membentuk bahan padat yang mengendap. Untuk menjernihkan golongan belerang dipergunakan Copper

Oksid atau kapur dicampur arang

Penanggulangan Pencemaran Udara Berbentuk Partikel

Bahan Pencemar Penanggulangan Keterangan
Debu  partikel

Timah hitam

(Pb)

Benzen

Partikel polutan

bersifat biologis

berupa :Bakteri,

jamur, virus,

telur cacing.

Membersihkan (Scrubbing)

Menggunakan filter

Mempergunakan Kolektor

Mekanis Program langit biru

Menggalakkan penanaman Tumbuhan

Mempergunakan cairan untuk memisahkan polutan, dalam keadaan alamiah (turun hujan) maka polutan partikel dapat turut dibawa bersama air hujan. Alat scrubbing ada berbagai jenis, yaitu berbentuk plat, masif, fibrous dan spray.

Dengan filtrasi dimaksudkan menangkap polutan partikel pada permukaan flter. Filter yang digunakan berukuran sekecil mungkin.

Dengan menggunakan tenaga gravitasi dan tenaga kinetis atau kombinasi untuk mengendapkan polutan partikel. Sebagai kolektor dipergunakan gaya sentripetal yang memakai silikon.

Semakin besar partikel secepat mungkin proses pembersihan

Program langit biru yang dikumandangkan oleh pemerintah Indonesia adalah mengurangi pencemaran udara, khususnya dari akibat

transportasi. Ada 3 tindakan yang dilakukan terhadap pencemaran udara akibat transportasi yaitu mengganti bahan bakar, mengubah mesin

kendaraan, memasang alat-alat pembersih polutan pada kendaraan. Mempertahankan “paru-paru” kota dengan memperluas pertamanan dan penanaman berbagai jenis tumbuh-tumbuhan sebagai penangkal pencemaran udara.

Penanggulangan Polusi udara dari ruangan

Sumber dari  pencemaran udara ruangan berasal dari asap rokok, pembakaran asap dapur, bahan baku ruangan, kendaraan bermotor dan lain-lain yang dibatasi oleh ruangan. Pencegahan pencemaran  udara yang berasal dari ruangan bisa dipergunakan :

Ventilasi  yang sesuai, yaitu usahakan  polutan  yang masuk ruangan seminimum mungkin. Tempatkan alat pengeluaran  udara dekat dengan sumber pencemaran. Usahakan menggantikan udara yang keluar dari ruangan sehingga udara yang masuk keruangan sesuai dengan kebutuhan.

Filtrasi,  dengan cara  memasang filter yang dipergunakan dalam ruangan untuk menangkap polutan dari sumbernya dan polutan dari udara luar ruangan.

Pembersihan udara secara elektronik. Udara yang mengandung polutan dilewatkan melalui alat ini sehingga  udara dalam ruangan sudah berkurang polutannya atau disebut bebas polutan.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

  1. Pencemaran udara berarti hadirnya satu atau beberapa kontaminan di dalam udara atmosfir di luar, seperti antara lain:debu, busa, gas, kabut, bau-bauan, asap atau uap dalam kuantitas yang banyak, dengan berbagai sifat maupun lama berlangsungnya di udara tersebut, hingga dapat menimbulkan gangguan-gangguan terhadap kehidupan manusia, tumbuhan atau hewan maupun benda, atau alsa jelas sudah dapat mempengaruhi kelestarian kehidupan organisme maupun benda. Sumber pencemaran udara berdasarkan pergerakannya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu sumber pencemaran bergerak dan tidak bergerak.
  2. Dampak (efek) terhadap kesehatan yang disebabkan oleh pencemaran udara akan terakumulasi dari hari ke hari. Pemaparan dalam jangka waktu lama akan berakibat pada berbagai gangguan kesehatan, seperti bronchitis, emphysema, dan kanker paru-paru. Dampak dari pencemaran udara dibagi menjadi dua, dampak pencemaran udara berupa gas dan partikel.
  3. Penanggulangan pencemaran udara dibedakan menjadi penanggulangan pencemaran udara berupa gas dan berupa partikel.

Teori Evolusi

Periode perkembangan teori evolusi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Periode Sebelum Charles Darwin

a. Anaximander

Filsuf Yunani, ± 350 tahun sebelum Masehi.

b. Plato (428-348 SM)

Membayangkan pencipta yang menciptakan dunia dari kehancuran kemudian menciptakan para dewa yang akan membuat manusia berjenis kelamin laki-laki. Perempuan dan hewan muncul dari hasil reinkarnasi jiwa laki-laki, makin cacat jiwa tersebut, makin rendah reinkarnasinya.

c. Aristoteles

Filsuf Yunani, ± 350 tahun sebelum Masehi. Dia merupakan murid Plato yang menyusun seluruh organisme ke dalam suatu ”skala alami”. Skala tersebut meliputi tingkat sederhana hingga tingkat paling kompleks.

d. Carolus Linnaeus (1707-1778)

Ahli botani dan fisika asal Swedia. Ia dikenal sebagai bapak taksonomi karena menemukan sistem penamaan dan klasifikasi makhluk hidup pada tahun 1753. Ia menunjukkan bahwa seluruh dunia kehidupan dapat diatur dalam hierarki yang apabila digambarkan dalam bentuk diagram, menyerupai silsilah. Setelah Linnaeus, para naturalis sering menanggap bahwa makhluk hidup saling ‘berkerabat’ namun mereka belum tahu apa penyebabnya. Secara ironis sistem klasifikasi yang ia buat menjadi petunjuk penting dalam argumen Charles Darwin tentang evolusi.

e. Count de Buffon (ahli ilmu pengetahuan alam, 1707-1788)

Dengan tegas menolak gagasan adanya ciptaan khusus. Variasi-variasi kecil yang terjadi karena pengaruh alam sekitar diwariskan hingga terjadi penimbunan variasi.

f.  Erasmus Darwin (1731-1802)

Kakek dari Charles Darwin. Ia merupakan seorang naturalis dan ahli fisika yang berpendapat bahwa kemungkinan kehidupan di bumi memiliki asal usul yang sama. Ia juga menyatakan bahwa fungsional terhadap stimulasi adalah diwariskan.

g. Jean Baptiste de Lamarck (biologiwan Perancis, 1744-1824)

Teori ini disebut juga teori “use and disuse” artinya “use” adalah organ yang sering dipakai akan tumbuh sempurna sedangkan “disuse” adalah organ tubuh yang jarang dipakai akan menyusut. Idenya mengenai evolusi dituangkan dalam bukunya: “Philosophie zoologique”. Inti isi buku tersebut adalah:

  • Alam sekitar/lingkungan (environment) mempunyai pengaruh pada ciri-ciri/sifat-sifat yang diwariskan.
  • Organ yang digunakan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan akan berkembang, sedang yang tidak digunakan akan mengalami kemunduran.
  • Ciri-ciri/sifat-sifat yang didapat (acquired characters) akan diwariskan kepada keturunannya.

h. Baron George Cuvier (geologiwan Inggris, 1797-1875)

Mengemukakan bahwa sejarah kehidupan tercatat di dalam lapisan-lapisan bumi yang mengandung fosil dengan ciri khasnya masing-masing.

Pada lapisan bumi yang tua (terdalam) terdapat jenis flora dan fauna yang berbeda dengan kehidupan modern. Pada tiap lapisan muncul spesies baru yang tidak muncul kembali pada lapisan yang lain. Cuvier beranggapan bahwa pergantian (suksesi) spesies dari suatu fauna disebabkan oleh serangkaian bencana besar (katastropfe) kemudian disusul dengan penciptaan spesies. Pandangan tersebut disebut katastrofisme.

i.  Charles Lyell

Prinsip uniformitarianisme yang dikemukakannya, yang menyatakan bahwa gunung, lembah dan ciri-ciri fisik permukaan bumi tidak diciptakan dengan bentuk seperti saat ini atau tidak terbentuk oleh bencana berturut-turut tetapi terbentuk oleh proses vulkanisme, pergolakan dan proses lainnya secara berkelanjutan dalam jangka waktu lama dan hingga saat ini masih berlangsung, sangat berarti bagi perkembangan pemikiran evolusi.

2. Periode Charles Darwin

1.   Charles Robert Darwin

Darwin sudah lama berpikir tentang evolusi, ide bahwa semua species berhubungan satu sama lain dan mempunyai “common ancestor” (berasal dari satu garis keturunan) dan melalui mutasi species baru muncul. Namun dia masih penasaran tentang mekanisme bagaimana proses itu terjadi. Secara kebetulan, ia membaca tulisan-tulisan Thomas Malthus. Malthus berpendapat bahwa populasi manusia bertambah lebih cepat daripada produksi makanan, sehingga menyebabkan manusia bersaing satu sama lain untuk memperebutkan makanan dan menjadikan perbuatan amal sia-sia. Darwin menggunakan mekanisme ini untuk menjelaskan teorinya. Ia menulis: “Manusia cenderung untuk bertambah dalam tingkat yang lebih besar daripada caranya untuk bertahan”. Akibatnya, sesekali ia harus berjuang keras untuk bertahan, dan seleksi alam akan mempengaruhi apa yang terletak di dalam jangkauan ini.” (Descent of Man, Ps.21) Ia menghubungkan hal ini dengan temuan-temuannya mengenai spesies-spesies yang terkait dengan tempat-tempat, penelitiannya tentang pengembangbiakan binatang, dan gagasan tentang “hukum seleksi alam” (Natural Selection). Menjelang akhir 1838 ia membandingkan ciri-ciri seleksi para peternak dengan seleksi alam menurut teori Malthus dari varian-varian yang terjadi “secara kebetulan” sehingga “setiap bagian dari struktur yang baru diperoleh sepenuhnya dipraktikkan dan disempurnakan”, dan menganggap bahwa ini adalah “bagian yang paling indah dari teori saya” tentang bagaimana spesies-spesies itu bermula.

Darwin Finches

Paruh burung finch (sejenis burung manyar) menjadi topik pemikiran Darwin yang mendasari evolusi teorinya. Ketika berada di kepulauan Galapagos, bagian dari ekspedisi HMS Beagle, Darwin melihat bahwa paruh burung finch berbeda-beda, tergantung dari pulau mana asalnya. Ini adalah salah satu contoh bagaimana burung finch menyesuaikan diri dengan kondisi pulau yang berbeda-beda. Contohnya, di pulau yang satu, paruh burung finch kuat dan pendek dan cocok untuk memecahkan kulit kacang yang keras. Di pulau lainnya, paruh burung finch sedikit lebih panjang dan lebih tipis, cocok untuk mengisap jenis makanan yang berada di pulau itu. Hal ini membuat Darwin berpikir akan suatu kemungkinan bahwa burung finch tidak diciptakan begitu saja, melainkan melalui proses adaptasi.

Waktu adalah faktor penting dalam evolusi. Proses evolusi memerlukan waktu yang sangat lama. Menurut Darwin, ada dua mekanisme yang mendasari evolusi. Pertama, proses evolusi membawa spesies yang ada untuk berinteraksi dengan kondisi ekologinya. Contohnya, karena hasi evolusi, beberapa burung mempunyai paruh yang hanya bisa dipakai untuk menghisap madu bunga. Selama bunga itu masih tersedia, burung ini akan hidup. Tetapi, bila bunga ini, karena sesuatu hal, punah, maka burung itu kemungkinan besar akan punah juga. Mekanisme yang kedua adalah kelahiran spesies baru dari hasil variasi di spesies yang ada. Ini terjadi bila suatu group makhluk hidup menjadi terpisah dan pada akhirnya mempunyai gaya hidup yang sangat berbeda. Contoh klasik adalah burung finch di atas. Asal mulanya, nenek moyang burung dari bermacam pulau di Galapagos adalah berasal dari daratan Amerika Selatan. Karena bertebaran di bermacam pulau, burung ini akhirnya mengembangkan gaya hidup yang berbeda-beda. Waktu (melalui banyak generasi burung) dan perjuangan untuk hidup (survival) adalah dua hal yang dibutuhkan untuk melahirkan generasi baru burung finch. Waktu yang lebih panjang lagi dan melalui proses yang sama, menurut Darwin akan dapat menjelaskan evolusi dari semua makhluk hidup di muka bumi yang berasal dari satu “common ancestor”.

Dalam buku “On The Origin Of Species By Means Of Natural Selection” berisi dua teori pokok:

  • Species yang hidup sekarang dari species-species yang hidup pada masa lampau.
  • Prinsip evolusi terjadi karena adanya seleksi alam.

Seleksi alam adalah alam menyeleksi terhadap individu-individu yang hidup di dalamnya, hanya individu yang dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya yang dapat hidup/survive.

Ajaran teori evolusi oleh Darwin didasarkan pada pokok-pokok pikiran yaitu:

  • Tidak ada individu yang sama, artinya adanya variasi di dalam satu keturunan.
  • Setiap makhluk hidup mempunyai kecenderungan untuk bertambah karena perkembangbiakan.
  • Perkembangbiakan memerlukan makanan dan ruangan yang cukup memadai.
  • Pertambahan populasi tidak berjalan terus menerus.

2.   Alfred Russel Wallace (1823-1913)

Alfred Russel Wallace adalah seoring naturalis Inggris yang hidup semasa dengan Darwin. Wallace secara terpisah juga memikirkan teori evolusi identik dengan Darwin. Darwin dan Wallace cukup lama berkorespondensi secara ilmiah. Wallace banyak mengirim spesies-spesies penemuan baru dari Asia ke Darwin untuk diteliti. Teori tentang evolusi, menurut Wallace sendiri, adalah hasil pemikiran yang datang secara spontan. Di lain pihak, teori evolusi Darwin adalah hasil pemikiran secara metodis selama bertahun-tahun. Ironisnya, Darwin menjadi sangat jauh terkenal daripada Wallace sendiri. Namun demikian, Wallace adalah salah satu pembela Darwin dan teorinya dimasa kontroversial setelah buku “The Origin of Species” diterbitkan.

3. Periode Setelah Charles Darwin

1. T. Dozhansky dan G.G. Simpson

T. Dozhansky adalah perintis genetika populasi sedangkan G.G. Simpson adalah ahli paleontologi vertebrata. Keduanya tergabung dalam pelopor pandangan sintetik NeoDarwin yang menyatakan bahwa seleksi alam bukan merupakan satu-satunya faktor yang terlibat dalam perubahan evolusioner.

2. Ernst Mayer

Ia merupakan ahli sistematik dan pengetahuan alam lapangan. Ia juga tergabung dalam pelopor pandangan sintetik NeoDarwin.

Menurut Ernst Mayr (2001), Darwin mengajukan lima teori perihal evolusi:

  • Bahwa kehidupan tidak tetap sama sejak awal keberadaannya.
  • Kesamaan leluhur bagi semua makhluk hidup.
  • Evolusi bersifat gradual (berangsur-angsur).
  • Terjadi pertambahan jumlah spesies dan percabangan garis keturunan.
  • Seleksi alam merupakan mekanisme evolusi.

TRAGEDY OF THE COMMON

GARRET HARDIN (1968)

Tragedi of the Commons adalah tragedi khas yang muncul akibat sikap aji mumpung manusia, ketika kondisi kepemilikan properti tidak terdefinisikan dengan jelas, atau gagal ditegakkan dengan baik, sehingga orang cenderung termotivasi untuk memuaskan keinginannya dalam jangka pendek dan mengabaikan sama sekali kepuasannya di masa mendatang.  Tragedi ini muncul ketika sistem penyelenggaraan properti yang berlaku di masyarakat sedemikian rupa sehingga pihak-pihak yang terlibat mendapat insentif untuk bertindak, meski tetap  rasional, seolah tidak ada hari esok.

Di awal tragedy of the common, menjelaskan tentang dua pandangan yang berbeda terhadap langkah penyelesaian suatu permasalahan. Pandangan yang pertama, bahwa suatu permasalahan hanya bisa diselesaikan dengan cara teknis, dan pandangan kedua suatu permasalahan tidak selalu bisa diselesaikan dengan cara teknis bahkan hasilnya justru akan lebih memperburuk situasi, untuk itu cara-cara non teknis akan menjadi langkah penyelesaian yang lebih baik.

Jenis permasalahan yang ditampilkan adalah peningkatan kekuatan militer (persenjataan) yang diikuti dengan melemahnya kekuatan nasional. Langkah penyelesaian dari permasalahan ini tidak bisa ditempuh dengan cara teknis (mis. Senjata dilawan senjata) hal ini yang dimaksudkan justru akan memperburuk situasi keamanan nasional. Yang dimaksud dengan penyelesaian secara teknis yaitu suatu permasalahan yang hanya membutuhkan langkah penyelesaian secara teknis dan ilmu pengetahuan murni, tanpa cenderung atau tidak sama sekali memperhitungkan nilai-nilai kemanusiaan atau ide-ide secara moralitas.Untuk itu, penyelesaian secara non teknis adalah langkah penyelesaian yang paling tepat karena pelaku perang adalah manusia yang perlu pendekatan secara manusiawi dengan mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dan ide-ide secara moralitas. Contoh sederhana yang diberikan oleh Garret Hardin (1968) yaitu permainan tick-tack toe. Yaitu bagaimana kita dapat memenangkan, jika lawan kita memang adalah lawan yang tangguh, secara teknis kita tidak mungkin menang. Hal ini adalah sebuah permasalahan dan permasalahan ini tudak bisa diselesaikan dengan cara teknis, tetapi bisa diselesaikan dengan masalah non teknis, artinya bahwa kita dapat memenangkan permainan dengan melibatkan semangat, tanpa beban, dan akhirnya mungkin kita dapat memenangkan permainan. Aplikasinya bisa kita kenakan pada permasalahan pertumbuhan penduduk yang penyelesaiannya adalah dengan menggunakan penyelesaian non teknis dan bukan teknis seperti : membuat sawah di laut atau membuat benih gandum terbaru.

“Tragedy of the common (tragedi kepemilikan bersama)” menggunakan kata tragedi sebagai pandangan para filosofi yang sering menggunakannya. “Inti dari drama tragedi ini tidaklah bahagia. Ketidakbahagiaannya terletak pada kekejaman dalam bekerja untuk merebut sesuatu.
Tragedy of the common terjadi seperti gambaran sebuah padang rumput yang terbuka untuk semua. Tanpa pengecualian setiap pengembala dapat menjaga beberapa lembunya pada wilayah yang dianggap milik bersama itu. Seperti pekerjaan yang dilakukan atas alasan memenuhi kepuasan yang tertunda selama berabad-abad karena perang suku, perburuan liar dan penyakit bagi manusia serta hewan liar yang sangat tergantung pada daya dukung-ketersediaan lahan. Akhirnya, bagaimanapun, tiba saatnya perhitungan-perhitungan dengan tujuan memenuhi nafsu untuk keutuhan sosial menjadi kenyataan. Pada point ini, logika yang melekat pada “milik bersama” adalah kekejaman, kerakusan yang menghasilkan sebuah tragedi.

Secara rasional, setiap penggembala akan mencari keuntungan yang maksimal. Secara eksplisit atau implisit, sadar atau tidak, ia berkata, “Apa manfaatnya untuk saya jika menambah satu atau lebih penggembalaan saya?” Anggapan ini mempunyai hal yang positif dan negatif.
1.Hal yang positif adalah bertambahnya jumlah hewan gembalaan. Setelah penggembala menerima semua hasil dari penjualan penambahan hewan gembalaan tersebut, manfaat positif .
2.Hal yang negatif adalah bertambahnya pemanfaatan rumput (overgrazing).

Kira-kira secara logika, milik bersama telah dipahami sejak lama, mungkin sejak ditemukannya pertanian atau penyediaan lahan (tanah) pribadi untuk real estate. Tetapi ia dipahami hanya untuk kasus-kasus khusus yang tidak cukup untuk diambil pelajarannya bagi generasi berikutnya. Bahkan pada akhir sekarang ini, penyewaan lahan peternakan di tanah Negara di Western menunjukkan tidak lebih dari sebuah pemahaman yang bertentangan, antara kebijakan pemerintah federal untuk meningkatkan pendapatan Negara dengan terjadinya overgrazing yang memicu erosi dan dominasi tumbuhnya rumput liar.

Laporan Dormansi dan Perkecambahan Biji

Disusun oleh:

Nama  : Heny Dwi Kurniawati

NIM     : 08308144008

Prodi  : Biologi Swadana

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2009


KAJIAN PUSTAKA

A. Dormansi

Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embrio. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio. Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya.

a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi

  • Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan.
  • Imnate dormancy (rest): dormansi yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ biji itu sendiri.

b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji

Mekanisme fisik

Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri, terbagi menjadi:

  • Mekanis: embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik
  • Fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeabel
  • Kimia: bagian biji atau buah yang mengandung zat kimia penghambat

Mekanisme fisiologis

Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis, terbagi menjadi:

  • Photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya
  • Immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang tidak/belum matang
  • Termodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu

c. Berdasarkan bentuk dormansi

Kulit biji immpermeabel terhadap air (O2)

  • Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nukleos, pericarp, endocarp.
  • Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
  • Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skrifikasi mekanisme.
  • Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum, strophiole, adapun mekanisme higroskopinya diatur oleh hilum.
  • Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.

Embrio belum masak (immature embryo)

  • Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. Misalnya Gnetum gnemon (melinjo)
  • Embrio belum terdiferensiasi
  • Embrio secara morfologis telah berkembang, namun masih butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.

Dormansi immature embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur rendah dan zat kimia.

Biji membutuhkan pemasakan pascapanen (afterripenning) dalam penyimpanan kering

Dormansi karena kebutuhan akan afterripenning ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatut tinggi dan pengupasan kulit.

Biji membutuhkan suhu rendah

Biasa terjadi pada spesies daerah temperate, seperti apel dan Familia Rosaceae. Dormansi ini secara alami terjadi dengan cara: biji dorman selama musim gugur melampaui satu musim dingin, dan baru berkecambah pada musim semi berikutnya. Dormansi karena kebutuhan biji akan suhu rendah ini dapat dipatahkan dengan perlakuan pemberian suhu rendah, dengan pemberian aerasi dan imbibisi.

Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi ini adalah:

  • Jika kulit dikupas, embrio tumbuh
  • Embrio mengalami dormansi yang hanya dapat dipatahkan dengan suhu rendah
  • Embrio tidak dorman pada suhu rendah, namun proses perkecambahan biji masih membutuhkan suhu yang lebih rendah lagi
  • Perkecambahan terjadi tanpa pemberian suhu rendah, namun semai tumubuh kerdil
  • Akar keluar pada musim semi, namun epikotil baru keluar pada musim semi berikutnya (setelah melampaui satu musim  dingin)

Biji bersifat light sensitive

Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas (kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang hari).

Kuantitas cahaya

Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan perkecambahan pada biji-biji yang positively photoblastic (perkecambahan dipercepat oleh cahaya), jika penyinaran intensitas tinggi ini diberikan dalam durasi waktu yang pendek. Hal ini tidak berlaku pada biji yang bersifat negatively photoblastic (perkecambahannya dihambat oleh cahaya).

Biji pesitively photoblastic yang disimpan dalam kondisi imbibisi dalam gelap untuk jangka waktu lama akan berubah menjadi tidak responsif terhadap cahaya, dan hal ini disebut skotodormant. Sebaliknya, biji yang bersifat negatively photoblastic menjadi photodormant jika dikenai cahaya. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan dengan temperatur rendah.

Kualitas cahaya

Yang menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari spektrum, sedangkan sinar infra merah menghambat perkecambahan. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually antagonistic (sama sekali bertentangan). Jika diberikan bergantian , maka efek yang terjadi kemudian dipengaruhi oleh spektrum yang terakhir kali diberikan. Dalam hal ini, biji mempunyai 2 pigmen yang photoreversible (dapat berada dalam 2 kondisi alternatif):

  • Ø P650 : mengabsorbir di daerah merah
  • Ø P730 : mengabsorbir di daerah infra merah

Jika biji dikenai sinar merah maka pigmen P650 diubah menjadi P730. P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang menyebabkan terjadinya perkecambahan. Sebaliknya jika P730 dikenai sinar infra merah maka pigmen berubah kembali menjadi P650 dan terhambatlah proses perkecambahan.

Photoperiodisitas

Respon dari biji photoblastic dipengaruhi oleh temperatur :

  • Pemberian temperatur 10-20°C : biji berkecambah dalam gelap
  • Pemberian temperatur 20-30°C : biji menghendaki cahaya untuk berkecambah
  • Pemberian temperatur >35°C : perkecambahan biji dihambat dalam gelap atau terang

Kebutuhan akan cahaya untuk perkecambahan dapat diganti oleh temperatur yang diubah-ubah. Kebutuhan akan cahaya untuk pematahan dormansi juga dapat digantikan oleh zat kimia seperti KNO3, thiourea dan asam giberelin.

Dormansi karena zat penghambat

Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangakaian kompleks proses-proses metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangakaian proses perkecambahan. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton tidak jenuh, namun lokasi penghambatnya sukar ditentukan karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat dimana zat tersebut diisolir. Zat penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah.

Teknik Pematahan Dormansi Biji

Biji telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahakan dormansi dan memulai proses pekecamabahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan unuk mengatasi dormansi embrio.

Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang ditunjuka untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam (Schmidt, 2000). Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan secara fisis, mekanis, maupun chemis. Hartmann (1997) mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya.

B. Perkecambahan Biji

Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang keluar menembus kulit biji (Salibury, 1985: 4160). Di balik gejala morfologi dengan permunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis.

Secara fisiologi, proses perkecambhan berlangsung dalam beberapa tahapan penting meliputi :

  • Absorbsi air
  • Metabolisme pemecahan materi cadangan makanan
  • Transport materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang aktif bertumbuh
  • Proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru
  • Respirasi
  • Pertumbuhan

Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan, terutam asam giberelin (GA) dan asam abskisat (ABA). Faktor eksternal yang merupkan ekologi perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan (Mayer, 1975:46-43).

Syarat perkecambahan biji

a. Air

  • Fungsi 1 : melunakkan kulit biji, embrio dan endosperm mengembang sehingga kulit biji robek
  • Fungsi 2 : memfasilitasi masuknya O2 kedalam biji, air imbibisi pada dinding sel sehingga sel jadi permeabel terhadap gas. Gas masuk secara difusi sehingga suplai O2 pada sel hidup meningkat dan pernafasan aktif
  • Fungsi 3 : mengencerkan protoplasma, aktivasi macam-macam fungsinya
  • Fungsi 4 : alat transport larutan makanan dari endosperm/kotiledon ketitik tumbuh di embryonic axis : untuk membentuk protoplasma baru

Bagian biji yang mengatur masuknya air yaitu kulit dengan cara imbibisi (perembesan ) dan mikro raphae hilum dengan cara difusi (perpindahan substansi karena perbedaan konsentrasi) dari kadar air tinggi ke rendah/konsentrasi larutan rendah ke tinggi

Faktor yang mempengaruhi penyerapan air :

  1. Permeabilitas kulit/membran biji
  2. Konsentrasi air

Karena air masuk secara difusi, maka konsentrasi larutan diluar bji harus    tidak lebih pekat dari di dalam biji.

3.   Suhu air

Suhu air tinggi energi meningkat, difusi air meningkat sehingga     kecepatan penyerapan tinggi.

4.   Tekanan hidrostatik

Berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air.  Kerika volume air dalam membran biji telah sampai pada batas tertentu akan timbul tekanan  hidrostatik yang mendorong keluar biji sehingga kecepatan penyerapan air menurun.

5.   Luas permukaan biji yang kontak dengan air

Berhubungan dengan kedalaman penanaman biji dan berbanding lurus      dengan kecepatan penyerapan air.

6.   Daya intermolekuler

Merupakan tenaga listrik pada molekul-molekul tanah atau media tumbuh. Makin rapat molekulnya, makin sulit air diserap oleh biji.Berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air.

7.   Spesies dan Varietas

Berhubungan dengan faktor genetik yang menentukan susunan kulit biji.

8.   Tingkat kemasakan

Berhubungan dengan kandungan air dalam biji, biji makin masak, kandungan air berkurang, kecepatan penyerapan air meningkat.

9.   Komposisi Kimia

Biji tersusun atas karbohidrat, protein, lemak. Kecepatan penyerapan air: protein>karbohidrat>lemak.

10. Umur

Berhubungan dengan lama penyimpanan makin lama disimpan, makin sulit menyerap air.

b. Suhu

Adanya cardinal point temperatures: min-optimum-max

  • Suhu minimum: batas suhu terendah dimana tidak dapat terjadi lagi perkecambahan biji
  • Berkecambah dalam cahaya terus menerus
  • Berkecambah setelah penyinaran sesaat
  • Tidak berpengaruh oleh ada/tidaknya cahaya

Proses Perkecambahan Biji (Jann dan Amen dalam Khan, 1934)

1. Penyerapan air

  • Masuk air secara imbibisi dan osmosis
  • Kulit biji
  • Pengembangan embrio dan endosperm
  • Kulit biji pecah, radikal keluar

2. Pencernaan

Merupakan proses terjadinya pemecahan zat atau senyawa bermolekul besar dan kompleks menjadi senyawa bermolekul lebih kecil, sederhana, larut dalam air dan dapat diangkut melalui membran dan dinding sel.

Makanan cadangan utama pada biji yaitu pati, hemiselulosa, lemak, protein:

  • tidak larut dalam air atau berupa senyawa koloid
  • terdapat dalam jumlah besar pada endosperm dan kotiledon
  • merupakan senyawa kompleks bermolekul besar
  • tidak dapat diangkut (immobile) ke daerah yang memerlukan embrionikaksis

Proses pencenaan dibantu oleh enzim

  • senyawa organik yang diproduksi oleh sel hidup
  • berupa protein
  • merupakan katalisator organik
  • fungsi pokok:

* enzim amilase merubah pati dan hemiselulosa menjadi gula

* enzim protease merubah protein menjadi asam amino

* enzim lipase merubah lemak menjadi asam lemak dan gliserin

  • aktivasi enzim dilakukan oleh air setelah terjadinya imbibisi
  • enzim yang telah diaktivasi masuk ke dalam endosperm atau kotiledon untuk mencerna cadangan makanan

3. Pengangkutan zat makanan

Hasil pencernaan diangkut dari jaringan penyimpanan makanan menuju titik-titik tumbuh pada embrionik axis, radicle dan plumulae

Biji belum punya jaringan pengangkut, sehingga pengangkutan dilakukan secara difusi atau osmosis dari satu sel hidup ke sel hidup lainnya

4. Asimilasi

Merupakan tahapan terakhir dalam penggunaan cadangan makanan

Merupakan proses pembangunan kembali, misalnya protein yang sudah dirombak menjadi asam amino disusun kembali menjadi protein baru

Tenaga atau energi berasal dari proses pernapasan

5. Pernafasan (Respirasi)

Merupakan proses perombakan makanan (karbohidrat) menjadi senyawa lebih sederhana dengan membebaskan sejumlah tenaga

Pertama kali terjadi pada embrionik axis setelah cadangan habis baru beralih ke endosperm atau kotiledon.

Aktivasi respirasi tertinggi adalah pada saat radicle menembus kulit

6. Pertumbuhan

Ada dua bentuk pertumbuhan embrionik axis:

Pembesaran sel-sel yang sudah ada

Pembentukan sel-sel yang baru pada titik-titik tumbuh

Proses Perkecambahan Morfologis

Merupakan suatu tahapan segera setelah terjadinya proses pengangkutan makanan dan pernafasan

Diawali oleh pembelahan dan perpanjangan sel

Dilanjutkan oleh pertumbuhan embryonic axis yang makroskopik yaitu keluarnya radicle atau plumulae dari kulit biji

HIPOTESIS

  1. Biji kulit tipis akan mengalami perkecambahan lebih cepat dari pada biji kulit tebal.
  2. Dengan pengamplasan biji kulit tebal akan mempercepat pematahan masa dormansi biji, jika dibandingkan dengan biji kulit tebal yang tidak diamplas.
  3. Penambahan zat kimia seperti herbisida dan NaCl akan menghambat proses perkecambahan.
  4. Semakin tinggi konsentrasi herbisida dan NaCl, semakin lambat proses perkecambahan.
  5. Ketersediaan dan banyaknya air mempengaruhi perkecambahan pada biji. Terlalu banyak air akan berdampak negatif terhadap proses perkecambahan


DATA HASIL PERCOBAAN

Zat Kimia Kacang Hijau Kacang tanah Kacang Merah Asam

diamplas      tdk diamplas

Flamboyan

diamplas   tdk damplas

Air 20 % Berke-

cambah

40 % Berke-cambah 80 % kulit pecah, 20 % berke-cambah
NaCl 0,5 % 70 % Berke-cambah 60 % ter-kelupas, 40 % tdk ada per-ubahan
NaCl 1 % 20 % ter-kelupas, 30% tdk ada per-ubahan
Herbisida

1 ml

35 % Berke-cambah Kulit pecah
Herbisida

2 ml

40 % Berke-cambah Kulit pecah Kulit pecah

PEMBAHASAN

Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan dan ketebalan kulit biji terhadap perkecambahan. Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting yaitu absorbsi air, metabolisme, pemecahan materi, proses transport materi, pembentukkan kembali materi baru, respirasi, dan pertumbuhan (Suyitno, 2007:51).

Pada percobaan perkecambahan ini, digunakan dua jenis biji yaitu:

  1. Biji kacang hijau (Phaseolus radiatus) yang merupakan biji berkulit tipis.
  2. Biji asam (Tamarindus indica) dan flamboyan (Delonix regia) yang merupakan biji berkulit tebal.

Untuk biji kacang hijau yang merupakan biji berkulit tipis, ditempatkan pada cawan petri yang telah dialasi kapas dan dibasahi  dengan larutan yang berbeda, dimana banyaknya larutan yang digunakan ada yang hanya beberapa tetes saja, sementara yang lainnya sampai merendam biji. Larutan yang digunakan antara lain air (sebagai kontrol), herbisida 1 ml, herbisida 2 ml, NaCl 0,5%, dan NaCl 1%.

Perlakuan yang sama juga diberikan kepada biji asam dan flamboyan yang merupakan biji berkulit tebal. Hanya saja, sebelum ditempatkan pada cawan petri, kedua jenis biji yang berkulit tebal itu sebagian diamplas terlebih dahulu, sementara sisanya tidak diamplas.

Berdasarkan hasil pengamatan selama tiga hari diketahui bahwa kacang hijau yang diletakkan di cawan yang diteesi air telah berkecambah sekitas 20 %. Hal ini terjadi karena keadan lingkungan biji yang kering atau air yang terdapat pada cawan menjadi kering etelah dua hari dan tidak dilakukan penyiraman. Padahal air sangat berpengaruh sekali dalam perkecambahan. Selain itu waktu yang relative singkat yaitu selama tiga hari yang pada saat itu biji baru berkecambah belum menjadi tanaman.

Pada biji kacang hijau yang diberi NaCl 0,5% menunjukan adanya perubahan pada biji kacang hijau, yaitu berkecambah  sebanyak 70 % hal ini terjadi karena lingkungan disekitar biji memungkinkan untuk tumbuh. Hanya saja kita belum bias melihat pertumbuhan selanjutnya, karena waktu yang hanya tiga hari belum cukup untuk mengamati pertumbuhan biji menjadi tanaman apalagi dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, yaitu dberi zat NaCl 0,5 % dan lama kelamaan lingkungan biji menjadi kering.

Pada  biji kacang hijau yang ditetesi NaCl 1 % menunjukkan bahwa biji kacang hijau tidak ada perubahan sama sekali. Hal ini terjadi karena larutan Nacl 1 % yang diberikan sangat sedikit akibatnya lingkungan biji menjadi kering sehingga biji pun tidak berkecambah. Seharunya larutan yang diberikan harus sampai menyebabkan biji basah sehingga biji berkecambah.

Biji kacang hijau yang diberi herbisida 1 ml menunjukkan adanya perubahan bahwa biji berkecambah hingga 35 %. Begitu pula pada biji yang diberi larutan Herbisida 2 ml menunjukkan bahwa biji berkecambah hingga 40 %. Setelah itu tidak Nampak perubahan lagi dalam waktu 3 hari. Seharusnya pada biji kacang hijau yang diberi larutan herbisida 1 ml atau 2 ml, menunjukkan perkecambahan 100% pada hari pertama. Akan tetapi kecambah kecil dan kering karena herbisida dapat menghambat sintesis amilase sehingga proses hidrolisis pati menjadi gula dalam endosperm berkurang dan jumlah glukosa yang dikirim ke titik tumbuh sedikit sehingga pertumbuhan biji terhambat sehingga meskipun terjadi perkecambahan, tetapi kecambah kecil dan akarnya pendek. Glifosat menghambat pemanjangan akar kecambah, karena masuknya herbisida glifosat ke dalam tubuh tumbuhan melalui akar menghambat pertumbuhan terutama pemanjangan akar dan mencegah pertumbuhan akar lateral Herbisida aktif lewat system perakaran menyebabkan kerdil serta menekan pertumbuhan akar lateral (Moenandir, 1993). Semakin meningkat dosis herbisida glifosat menyebabkan semakin terhambatnya pertumbuhan panjang akar.

Pada kacang tanah yang diberi air menunjukan gejala perkecambahan sebanyak 40 %. Hal ini menunjukkan bahwa air mempengaruhi perkecambahan. Karena dengan lingkungan yang basah memberikan rangsangan biji untuk berkecambah.

Namun pada kacang tanah yang diberi NaCl 0,5 %, NaCl 1 %, dan herbisida 1 ml, kacang tanah tidak tumbuh. Hal ini terjadi karena larutan yang diberikan terlalu sedikit sehingga menjadikan lingkungan yang tidak cocok untuk perkecambahan. Lingkungan kering, apalagi setelah tiga hari tidak diberi larutan lagi. Sehingga kita tidak bisa melihat gejala-gejala yang Nampak saat biji berkecambah dan saat pertumbuhan.

Pada biji kacang tanah yang diberi herbisida 2 ml hanya menunjukkan adanya perubahan bahwa biji kacang hanya mengalami pecah-pecah pada kulitnya. Seharusnya biji yang diberi herbisida akan menunjukkan gejala yang telah dijelaskan sebelumnya saat membahas kacang hijau. Namun bisa saja perkecambannya lebih cepat dari kacang hijau karena kulitnya lebih tipis dari kacang hijau.

Pada kacang merah tidak menunjukkan gejala apapun. Semua kering dan tidak berkecambah. Karena kering maka kacang merah tetap mengalami dormansi akibat terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan.

Sedangkan pada pada biji flamboyan dan asam yang merupakan biji berkulit tebal mengalami perkecambahan dengan jumlah relatif kecil. Untuk biji flamboyan yang diamplas dan diberi perlakuan sama seperti pada biji kacang hijau menunjukkan perkecambahan sebesar 20% dan 80 % yang lainnya hanya terpecah kulitnya. Adapun untuk biji berkulit tebal yang tidak diamplas, baik biji flamboyan maupun asam tidak menunjukan adanya proses perkecambahan.

Sedikitnya biji berkulit tebal yang berkecambah menunjukkan bahwa biji tersebut mengalami dormansi. Hal ini terjadi karena biji yang terlalu tebal menyebabkan air dan oksigen susah masuk ke dalam biji tersebut sehingga embrio tidak bisa melakukan proses pertumbuhan.

Tujuan dari pengamplasan biji flamboyan dan asam adalah untuk mempertipis kulit biji agar air dan oksigen bisa masuk ke dalamnya. Hal ini terbukti bahwa pada biji flamboyan dan asam yang diamplas menunjukkan adanya proses perkecambahan yang lebih baik jika dibandingkan dengan biji flamboyan dan asam yang tidak diampelas terlebih dahulu. Hal ini juga membuktikan bahwa proses perkecambahan pada biji kulit tebal seperti biji flamboyan dan asam lebih lambat jika dibandingkan dengan biji berkulit tipis seperti kacang hijau sehingga diperlukan pengampelasan untuk mempercepat pematahan masa dormansi biji agar bisa berkecambah.

Gejala-gejala diatas menununjukkan kondisi lingkungan biji yang kurang menguntungkan akibatnya biji tetap mengalami dormansi. Walaupun ada yang berkecambah namun sangat sedikit dan lambat sekali. Keadaan yang kurang menguntungkan tersebut adalah kondisi lingkungan yang kering atau tidak basah. Selain itu waktu yang hanya tiga hari tidak cukup untuk mengamati perkecambahan hingga pertumbuhan sampai menjadi tanaman, apa lagi pada biji yang berkulit tebal. Seharusnya kita bisa mengamati pengaruh ketebalan biji dan zat kimia pada proses perkecambahan jika waktunya lebih lama.

KESIMPULAN

Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji.

  1. Proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting yaitu absorbsi air, metabolisme, pemecahan materi, proses transport materi, pembentukkan kembali materi baru, respirasi, dan pertumbuhan. Penambahan zat kimia seperti herbisida dan NaCl menghambat proses perkecambahan. Semakin tinggi konsentrasi herbisida dan NaCl, semakin lambat proses perkecambahan.
  2. Biji kulit tipis mengalami perkecambahan lebih cepat dari pada biji kulit tebal.Pengamplasan biji kulit tebal mempercepat pematahan masa dormansi biji  jika dibandingkan dengan biji kulit tebal yang tidak diamplas.
  3. Ketersediaan dan banyaknya air mempengaruhi perkecambahan pada biji. Terlalu banyak air akan berdampak negatif terhadap proses perkecambahan. Namun jika sampai kering maka tidak akan terjadi perkecambahan.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Gramedia

Salisbury, Frank B dan Cleon Wross. 1985. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB   Bandung.

Suyitno Al.MS. 2007. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar. Yogyakarta : UNY

Perkecambahan Biji

Pertumbuhan awal tumbuhan berbiji dimulai dari biji. Biji mengandung potensi yang dibutuhkan untuk tumbuh menjadi individu baru, misalnya embrio, cadangan makanan, dan calon daun (calon akar). Sebutir biji mengandung satu embrio. Embrio terdiri atas radikula (yang akan tumbuh menjadi akar) dan plumula (yang akan tumbuh menjadi kecambah). Cadangan makanan bagi embrio tersimpan dalam kotiledon yang didalamnya terkandung pati, protein dan beberapa jenis enzim. Kotiledon dikelilingi oleh bahan yang kuat, disebut testa. Testa berfungsi sebagai pelindung kotiledon untuk mencegah kerusakan embrio dan masuknya bakteri atau jamur ke dalam biji. Testa memiliki sebuah lubang kecil, disebut mikropil. Di dekat mikropil terdapat hilum yang menggabungkan kulit kotiledon. (Bagod Sudjadi, 2006)

Biji memiliki kandungan air yang sangat sedikit. Pada saat biji terbentuk, air di dalamnya dikeluarkan sehingga biji mengalami dehidrasi. Akibat ketiadaan air, biji tidak dapat melangsungkan proses metabolism sehingga menjadi tidak aktif (dorman). Dormansi biji sangat bermanfaat pada kondisi tidak nyaman (ekstrem; sangat dingin atau kering) karena struktur biji yang kuat akan melindungi embrio agar tetap bertahan hidup. (Bagod Sudjadi, 2006)

Pengertian Perkecambahan

Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula. (Bagod Sudjadi, 2006)

Perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan embrio. Hasil perkecambahan ini adalah munculnya tumbuhan kecil dari dalam biji. Proses perubahan embrio saat perkecambahan adalah plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang, dan radikula tumbuh dan berkembang menjadi akar. (Istamar Syamsuri, 2004)

Perkecambahan merupakan sustu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Di balik gejala morfologi dengan pemunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis. (Salisbury, 1985)

Fisiologi Perkecambahan

Embrio yang tumbuh belum memiliki klorofil, sehingga embrio belum dapat membuat makanan sendiri. Pada tumbuhan, secara umum makanan untuk pertumbuhan embrio berasal dari endosperma. (Istamar Syamsuri, 2004)

Perkecambahan dimulai dengan proses penyerapan air ke dalam sel-sel. Proses ini merupakan proses fisika. Masuknya air pada biji menyebabkan enzim aktif bekerja. Bekerjanya enzim merupakan proses kimia. Enzim amilase bekerja memecah tepung menjadi maltose, selanjutnya maltose dihidrolisis oleh maltase menjadi glukosa. Protein juga dipecah menjadi asam-asam amino.  Senyawa glukosa masuk ke proses metabolisme dan dipecah menjadi energi atau diubah menjadi yang senyawa karbohidrat yang menyusun struktur tubuh. Asam-asam amino dirangkaikan menjadi protein yang berfungsi untuk menyusun struktur sel dan menyusun enzim-enzim baru. Asam-asam lemak terutama dipakai untuk menyusun membrane sel. (Istamar Syamsuri, 2004)

Perkecambahan biji berhubungan dengan aspek kimiawi. Proses tersebut meliputi beberapa tahapan, antara lain imbibisi, sekresi hormon dan enzim, hidrolisis cadangan makanan, pengiriman bahan makanan terlarut dan hormon ke daerah titik tumbuh atau daerah lainnya, serta asimilasi (fotosintesis). (Bagod Sudjadi, 2006)

Proses penyerapan cairan pada biji (imbibisi) terjadi melalui  mikropil. Air yang masuk ke dalam kotiledon menyebabkan volumenya bertambah, akibatnya kotiledon membengkak. Pembengkakan tersebut pada akhirnya menyebabkan pecahnya testa. (Bagod Sudjadi, 2006)

Secara fisiologi, proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting, meliputi:

  1. Absorbsi air
  2. Metabolisme pemecahan materi cadangan makanan
  3. Transpor materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang aktif tumbuh.
  4. Proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru.
  5. Respirasi
  6. Pertumbuhan (Mayer dan Mayber, 1975)

Banyak factor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang bersifat internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promoter dan inhibitor perkecambahan, terutama asam gliberelin (GA) dan asam abskisat (ABA). Faktor eksternal yang merupakan ekologi perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya, dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan. (Mayer dan Mayber, 1975)

Proses perkecambahan dipengaruhi oleh oksigen, suhu, dan cahaya. Oksigen dipakai dalam proses oksidasi sel untuk menghasilkan energi. Perkecambahan memerlukan suhu yang tepat untuk aktivasi enzim. Perkecambahan tidak dapat berlangsung pada suhu yang tinggi, karena suhu yang tinggi dapat merusak enzim. Pertumbuhan umumnya berlangsung baik dalam keadaan gelap. Perkecambahan memerlukan hormone auksin dan hormone ini mudah mengalami kerusakan pada intensitas cahay yang tinggi. Karena itu di tempat gelap kecambah tumbuh lebih panjang daripada di tempat terang. (Istamar Syamsuri, 2004)