Kearifan Lokal Masyarakat Toro

TUGAS PENGELOLAAN LINGKUNGAN

PERAN SERTA MASYARAKAT TRADISIONAL DALAM MENGELOLA LINGKUNGAN

“KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT TORO DALAM MENGELOLA SDA”

Disusun oleh:

HENY DWI KURNIAWATI

08308144008

BIOLOGI SWADANA

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010


KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT TORO

Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu, dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu. Kearifan lokal juga dapat diartikan sebagai bagian dari sistem budaya, biasanya berupa larangan-larangan yang mengatur hubungan sosial maupun hubungan manusia dengan lingkungan alamnya. Kearifan lokal berfungsi untuk menjaga kelestarian dan kesinambungan “aset” yang dimiliki suatu masyarakat sehingga masyarakat dapat terpenuhi kebutuhannya dari generasi ke generasi berikutnya, tanpa harus merusak atau menghabiskan “aset” tersebut. Oleh sebab itu, kearifan lokal selalu dijadikan pedoman atau acuan oleh masyarakat dalam bertindak atau berperilaku dalam kehidupannya.

Salah satu contohnya adalah masyarakat Toro yang tinggal di Ngata (Desa) Toro, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu masyarakat yang masih berpedoman pada kearifan sosial dalam mengelola lingkungannya. Dalam adat masyarakat Toro terdapat pembagian alam ke dalam zona-zona tertentu, dimana pembagian ini berdasarkan sejarah pembukaan lahan dan sistem perladangan bergilir yang dipraktekkan oleh masyarakat Toro tersebut, diantaranya:

  1. Wana Ngkiki, yang merupakan zona inti atau hutan primer. Dimana di zona ini dilarang melakukan ekploitasi hutan. Zona ini didominasi oleh rerumputan, lumut, dan perdu. Dan oleh masyarakat Toro, zona ini dianggap penting karena dianggap sebagai sumber udara segar. Di kawasan ini tidak mengakui adanya hak kepemilikan individu (Dodoha).
  2. Wana, yaitu hutan primer yang merupakan habitat hewan dan tumbuhan langka, dan juga sebagai kawasan tangkapan air. Di zona ini terdapat larangan untuk tidak membuka lahan pertanian. Oleh karena itu, zona ini hanya dimanfaatkan untuk kegiatan mengambil getah damar, wewangian, obat-obatan, dan rotan. Kepemilikan pribadi (Dodoha) di kawasan ini berlaku hanya pada pohon damar dimana penentuannya tergantung pada siapa yang pertama kali mengolahnya. Sedangkan sumber daya alam selebihnya sebagai hak penguasaan kolektif.
  3. Pangale, merupakan kawasan hutan semi primer, dimana hutan ini sudah pernah diolah menjadi kebun tetapi telah ditinggalkan selama puluhan tahun sehingga menjadi hutan kembali. Zona Pangale ini biasanya juga dimanfaatkan untuk mengambil rotan dan kayu untuk bahan bangunan dan keperluan rumah tangga, pandan hutan untuk membuat tikar dan bakul, bahan obat-obatan, getah damar dan wewangian. Tetapi kesemuanya itu juga harus berdasarkan izin dari lembaga adat atau pemerintah desa terlebih dahulu.
  4. Pahawa pongko, merupakan hutan bekas kebun yang telah ditinggalkan selama 25 tahun keatas sehingga hampir sama dengan Pangale. Pohon-pohonnya sudah besar sehingga untuk menebangnya diperlukan pongko (pijakan yang terbuat dari kayu) yang cukup tinggi, sedangkan tonggaknya diharapkan dapat tumbuh tunas kembali.
  5. Oma, merupakan hutan belukar yang terbentuk dari bekas kebun, dimana bekas kebun ini sengaja dibiarkan untuk diolah lagi dalam jangka waktu tertentu menurut masa rotasi dalam sistem peladangan bergilir. Dan pada kawasan Oma ini sudah diakui adanya hak kepemilikan pribadi (Dodoha). Berdasarkan urutan pergiliran tersebut, kawasan Oma ini terbagi menjadi 3 kategori, yaitu:
  • Oma ntua, merupakan jenis yang paling tua atau paling lama karena lahan ini dibiarkan selama 16 hingga 25 tahun. Sehingga tingkat kesuburan tanahnya sudah pulih dan dapat dijadikan kebun kembali.
  • Oma ngura, merupakan kategori yang lebih muda karena dibiarkan selama 3 sampai 15 tahun, didominasi rerumputan dan belukar. Dan pohon-pohonnya belum terlalu besar.
  • Oma nguku, yaitu apabila bekas kebun tersebut baru dibiarkan kurang dari 3 tahun, sehingga lahan ini masih didominasi oleh rerumputan, ilalang, dan semak belukar

6. Balingkea, merupakan bekas kebun yang sudah harus diistirahatkan karena kesuburannya sudah berkurang. Tetapi lahan ini masih bisa diolah untuk ditanami palawija. Dan dalam kawasan ini hak kepemilikan pribadi (Dodoha) diakui.

Selain berladang, masyarakat Toro juga mempraktekkan sistem pertanian sawah menetap (Polidaa). Dalam adat Toro juga terdapat larangan terhadap perburuan Anoa karena merupakan hewan yang dilindungi dan dianggap sebagai hewan adat yang hanya boleh dimakan saat upacara adat, Babirusa juga dilindungi karena bentuk fisiknya yang unik, dan masih banyak binatang lainnya.

Kearifan lokal masyarakat Toro dapat terlihat pada pembagian zona-zona tersebut. Selain itu juga pada pembukaan lahan, dimana kawasan Oma merupakan lahan yang dapat dibuka, sedangkan Pangale tidak boleh dibuka. Dan setiap akan membuka lahan, diwajibkan untuk mengajukan permohonan terlebih dahulu kepada pemerintah desa melalui LMA (Lembaga Masyarakat Adat) dengan mencantumkan luas lahan yang dibutuhkan. Setelah diijinkan, pembukaan lahan didahului dengan upacara adat ”Mohamele manu bula”. Dalam hal pengambilan kayu pun harus mengajukan permohonan dan bila sudah mendapat ijin maka harus didahului dengan upacara adat ”Mowurera pu kau”. Adapun syarat kayu yang bisa ditebang harus berdiameter minimal 60 cm, dan juga penebangan tidak boleh dilakukan di daerah Taolo, yaitu lokasi yang bertopografi miring sepanjang daerah aliran sungai dan di tempat yang rawan longsor dan erosi. Dalam hal pemanenan rotan juga ada aturannya, dimana rotan yang akan dipanen harus berumur diatas tiga tahun dan penetapan lokasi penebangannya ditentukan oleh hasil musyawarah lembaga adat dengan memperhatikan prinsip rotasi.

REFERENSI

http://images.muryanto.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SHauPwoKCCwAAFrAkvA1/makalah_lengkap.zip?nmid=105079214 diakses pada hari Minggu tanggal 17 April 2010 pukul 10.00 WIB

http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:ryQhtGsBbCYJ:fwi.or.id/publikasi/intip_hutan/komunitas_adattoro.pdf+masyarakat+toro&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESj4ZzK8ONVSBz4te3FeSVdwHYgzL2B1iHdITEhb6dhLNzyqtboFYS70XuNF9IibpavoUoDpfNRE2n3zIY3Pi56LXycfk7AyYRi6nmveHZnDL_Hwea9OVzuTi6U-E4XjlTQcucQY&sig=AHIEtbQNT_YAkWM_S7d0E826b2g6WkOXDQ diakses pada hari Minggu tanggal 17 April 2010 pukul 10.03 WIB

http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:kUf6OMq8hNsJ:www.wg-tenure.org/file/Warta_Tenure/Edisi_04/Warta_Tenure_04j.pdf+masyarakat+toro&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESjHTG0lFpVvC-mEnFPWG5sok3Q6gacZ5P16T0h-Qs0Wzq0ZdqezhIHHMuRII1xI3BSEryc8NnUVtO0jvnhei41gc1vjBaGD3BeVkBrjdd5DCcqFg38RbSPJBq_y0t6YM_eJ4DmH&sig=AHIEtbQzbvfV_Juq1mKKF6ZMnTcNqbJFaQ diakses pada hari Minggu tanggal 17 April 2010 pukul 10.05 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: