Tedhak Siten

TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

KAJIAN BUDAYA

TEDHAK SITEN


DISUSUN OLEH :

HENY DWI KURNIAWATI

08308144008


PROGRAM STUDI BIOLOGI SWADANA

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010

 

TEDHAK SITEN

Membicarakan masalah pelestarian warisan budaya dan lingkungan hidup di Jawa khususnya Surakarta dan Yogyakarta tidak akan pernah lepas dari permasalahan bagaimana cara mempertahankannya. Amanat warisan budaya hendaknya kita emban dengan usaha pelestarian dan pemanfaatan secara positif karena terlalu sarat dengan nilai-nilai filosofi, etika, dan pesan moral untuk senantiasa kita dalami, pelihara, bina dan kembangkan demi kepentingan hidup manusia secara utuh dan menyeluruh.

Sebagai salah satu warisan budaya, upacara tradisi adalah salah satunya. Unsur-unsur budaya Jawa intangible  yang masih terpelihara diantaranya adalah nilai-nilai luhur (value) dan keyakinan-keyakinan (beliefs) yang digunakan sebagai rencana atau pedoman perilaku atau adat serta memecahkan masalah-masalah yang berlaku dari generasi ke generasi.

Nilai-nilai budaya lain yang bersifat simbolis sering dimanifestasikan ke dalam bentuk upacara adat  seperti bermacam-macam upacara tradisional untuk bayi yang baru lahir; yaitu mitoni (tingkepan), brokohan, sepasaran, selapanan, tedhak siti, ngruwat (ruwatan), dan khitanan. Upacara adat sendiri yang sampai saat ini masih sering dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Jawa pada umumnya mempunyai fungsi spiritual yaitu memberikan petunjuk atau gambaran hubungan manusia dengan Tuhan, hal ini memenuhi kebutuhan rohani manusia fungsi sosial dimana dalam upacara melibatkan individu-individu warga masyarakat yang mempunyai kepentingan sama, yang dilandasi  oleh kepercayaan dan keyakinan yang sama pula, sehingga dapat menciptakan kerukunan sosial dan membawa dampak terwujudnya ketenangan, ketentraman dan kesejahteraan hidup.

Tedhak Siten adalah salah satu upacara adat budaya Jawa. Tedhak siten atau dhun-dhunan (ada juga yang menyebut dengan mudhun) lemah atau turun tanah merupakan upacara yang dilakukan sebagai peringatan bagi manusia akan pentingnya makna hidup di atas bumi yang mempunyai relasi, yaitu relasi antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan lingkungan alam. Artinya, upacara tedhak siten merupakan suatu upacara yang mengandung harapan orangtua terhadap anaknya agar si anak nantinya menjadi orang yang berguna bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Harapan orangtua ini termanifestasikan dalam suatu upacara yang diselenggarakan pada masa kanak-kanak yang dinamai upacara tedhak siten.

Tedhak siten berasal dari dua kata, yaitu tedhak dan siten. Tedhak berarti dekat, turun. Siten berasal dari kata dasar ‘siti’ yang berarti tanah dan akhiran ‘an’ yang melengkapi arti kata tanah. Artinya, tedhak siten merupakan suatu upacara sebagai tanda atau simbol bahwa si anak pertama kali menginjak atau turun ke tanah secara resmi sebagai suatu upaya untuk memperkenalkan anak pada bumi (tanah).

Tedhak siten dilakukan pada waktu bayi berumur tujuh lapan (satu lapan sama dengan 35 hari). Simbol yang tersirat dalam tedhak siten adalah mengungkapkan masa depan bayi. Sedangkan maksud diadakannya tedhak siten adalah kelak kalau anak sudah dewasa akan kuat dan mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan yang penuh tantangan dan harus dihadapinya untuk mencapai cita-cita. Selain itu upacara ini mewujudkan rasa syukur karena pada usia ini si anak akan mulai mengenal alam di sekitarnya dan mulai belajar berjalan. Tujuan lain dari upacara ini adalah untuk mengenalkan sang buah hati kepada ibu pertiwi. “Karena dalam pepatah Jawa mengatakan ‘Ibu Pertiwi Bopo Angkoso’ yang berarti bumi sebagai ibu dan langit sebagai bapak.

Dalam upacara adat ini ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh si anak, di mana tiap tahap atau proses tersebut memiliki nilai-nilai budaya yang cukup tinggi. Jalannya upacara ini adalah sebagai berikut:

Pertama, orangtua anak membimbing si anak menginjakkan kakinya di tanah kemudian menginjakkannya ke juadah yang berjumlah tujuh. Lalu anak dibimbing menaiki tangga tebu. Setelah sampai pada tebu yang teratas, lalu diturunkan untuk menapaki juadah itu lagi. Turun dari tangga tebu, si anak  dituntun untuk berjalan dionggokan pasir. Disitu dia mengkais pasir dengan kakinya, bahasa Jawanya ceker-ceker, yang arti kiasannya adalah mencari makan. Maksudnya si anak setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak dibimbing untuk masuk kurungan ayam. Di dalam kurungan ayam tersebut terdapat beberapa barang seperti barang perhiasan, alat-alat tulis, padi, barang-barang mainan, dan lain-lain. Anak biasanya tertarik untuk memperhatikan dan kemudian mengambil barang yang tersedia. Kemudian Ayah dan kakek si bocah menyebar udik-udik, yaitu uang logam dicampur berbagai macam bunga. Maksudnya si anak sewaktu dewasa menjadi orang yang dermawan, suka menolong orang lain. Karena suka menberi, baik hati, dia juga akan mudah mendapatkan rejeki. Setelah selesai, anak dimandikan dengan air kembang setaman lalu pakaian dikenakan. Dengan demikian, selesailah upacara tedhak siten.

Uba rampe yang diperlukan dalam upacara tedhak siten adalah antara lain:

  1. Nasi tumpeng
  2. Jenang (bubur) merah dan putih
  3. Jenang boro-boro
  4. Jajan pasar selengkap-lengkapnya
  5. Juadah tujuh warna
  6. Kembang setaman
  7. Tangga yang terbuat dari tebu
  8. Sangkar (kurungan) ayam dihiasi janur kuning dan kertas warna-warni.
  9. Padi, kapas, kembang telon (tiga macam bunga, yaitu melati, mawar, dan kenanga).
  10. Beras kuning dan beberapa lembar/coin uang
  11. Barang-barang perhiasan, antara lain: kalung, gelang, peniti
  12. Barang-barang yang bermanfaat, misalnya buku dan alat-alat tulis.

Upacara tedhak siten yang diselenggarakan pada waktu anak berusia 7 lapan memiliki lambang yang dapat ditafsirkan sebagaai berikut:

  • Tangga tebu wulung (tebu hitam) : Mantapnya hati, pendirian yang teguh.
    Menaiki tebu wulung : untuk menggambarkan perjalanan hidup dan mencapai cita-cita yang tinggi dan luhur. Menandakan si anak mengenal kenyataan hidup yang akan dilalui di kemudian hari. Tangga tebu melambangkan tingkat-tingkat kehidupan yang mengandung harapan suatu ketetapan hati (antebing kalbu, Jawa) dalam mengejar tingkatan hidup yang lebih baik.
  • Kurungan jago melambangkan dunia fana yang terbatas, atau suatu lingkungan masyarakat yang akan dimasukinya dengan mematuhi segala peraturan dan adat istiadat setempat. Kurungan yang dihiasi dengan berbagai macam mainan : maknanya menggambarkan dunia dengan berbagai pilihan untuk hidup di kemudian hari.
  • Jadah terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan kelapa dan garam, dikukus dan dihaluskan kemudian dicetak sesuai dengan kebutuhan. Rasanya gurih, namun setelah diberi beberapa warna alami, rasa dan makna yang dikandung pun jadi lain. Makna yang terkandung dari jadah adalah perjalanan hidup yang akan dilalui oleh si anak. Menggambarkan kehidupan yang penuh cobaan, suka dan duka sehingga membutuhkan keuletan. Juadah tujuh macam warna melambangkan suatu harapan agar anak dalam setiap harinya dapat mengatasi berbagai macam kesulitan.

Makna yang dikandung dalam jadah tujuh warna adalah:

  1. Putih : kesucian
  2. Merah Muda : kelembutan hati
  3. Merah : keberanian
  4. Hijau : kehidupan
  5. Kuning : bersinar
  6. Ungu : keluhuran budi
  7. Hitam : keabadian
  • Kembang setaman melambangkan sifat suci dalam tingkatan hidup yang akan dijalani. Mandi dengan air setaman : Menggambarkan bahwa anak tetap sehat jasmani dan rohani. Membawa keharuman nama keluarga.
  • Barang-barang perhiasan melambangkan kekayaan
  • Kapas, padi, dan beras mengandung makna berupa harapan agar anak kelak selalu kecukupan sandang pangan.
  • Jenang blowok : Terdiri dari jenang merah putih dan jenang katul (bekatul) yang melambangkan perjalanan hidup itu tidak selalu mulus, kadang-kadang terperosok (keblowok – bahasa Jawa).
  • Udik-udik : beras kuning yang dicampur dengan empon-empon, uang logam dan bunga mawar dan melati yang melambangkan agar si anak suka menolong orang lain dengan memberikan sebagaian hartanya kepada orang yang membutuhkan.

Ringkasan Jalannya Upacara Tedhak Siten

No. Acara Makna
1. Orangtua anak membimbing si anak menginjakkan kakinya di tanah kemudian menginjakkannya ke juadah yang berjumlah tujuh perjalanan hidup yang akan dilalui oleh si anak. Menggambarkan kehidupan yang penuh cobaan, suka dan duka sehingga membutuhkan keuletan. Juadah tujuh macam warna melambangkan suatu harapan agar anak dalam setiap harinya dapat mengatasi berbagai macam kesulitan.
2. Anak dibimbing menaiki tangga tebu. Setelah sampai pada tebu yang teratas, lalu diturunkan untuk menapaki juadah itu lagi. untuk menggambarkan perjalanan hidup dan mencapai cita-cita yang tinggi dan luhur. Menandakan si anak mengenal kenyataan hidup yang akan dilalui di kemudian hari. Tangga tebu melambangkan tingkat-tingkat kehidupan yang mengandung harapan suatu ketetapan hati (antebing kalbu, Jawa) dalam mengejar tingkatan hidup yang lebih baik.
3. Anak  dituntun untuk berjalan dionggokan pasir Mencari makan. Maksudnya si anak setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
4. Anak dibimbing untuk masuk kurungan ayam. Di dalam kurungan ayam tersebut terdapat beberapa barang seperti barang perhiasan, alat-alat tulis, padi, barang-barang mainan, dan lain-lain. Melambangkan dunia fana yang terbatas, atau suatu lingkungan masyarakat yang akan dimasukinya dengan mematuhi segala peraturan dan adat istiadat setempat. Kurungan yang dihiasi dengan berbagai macam mainan : maknanya menggambarkan dunia dengan berbagai pilihan untuk hidup di kemudian hari.
5. Ayah dan kakek si bocah menyebar udik-udik, yaitu uang logam dicampur berbagai macam bunga. Maksudnya si anak sewaktu dewasa menjadi orang yang dermawan, suka menolong orang lain. Karena suka menberi, baik hati, dia juga akan mudah mendapatkan rejeki.
6. Anak dimandikan dengan air kembang setaman lalu pakaian dikenakan Menggambarkan bahwa anak tetap sehat jasmani dan rohani. Membawa keharuman nama keluarga.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://jagadkejawen.com/id/upacara-ritual/tedhak-siten diakses pada hari Rabu, tanggal 13 Oktober 2010 pukul        19.00 WIB

http://masduljoni.multiply.com/journal/item/7 diakses pada hari Rabu, tanggal 13 Oktober 2010 pukul 19.00 WIB

http://www.tembi.org/tembi/tedhak_siten.htm diakses pada hari Rabu, tanggal 13 Oktober 2010 pukul 19.00 WIB

http://www.koranjitu.com/lifestyle/kotaku%20cintaku/what%20is%20a%20name/detail_berita.php?ID=31 diakses pada hari Rabu, tanggal 13 Oktober 2010 pukul 19.00 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: